oleh

ArcGIS, Solusi Menjawab Tantangan Baru dan Meningkatkan Sucess Ratio Hulu Migas

ArcGIS, Solusi Menjawab Tantangan Baru dan Meningkatkan Sucess Ratio Hulu Migas

Pengembangan sektor hulu migas dikenal mempunyai berbagai tantangan. Dari mulai pembiayaan, pengembangan, hingga operasi. Ditambah lagi, saat ini ada tantangan baru Triple Shock yaitu; melemahnya harga minyak dunia, tingginya nilai tukar dolar dan terjadinya Pandemi Covid-19.

Alhasil, tantangan-tantangan itu harus dijawab dengan langkah efisiensi. Salah satu bentuknya adalah trasformasi digital yang dipercaya bisa memberikan informasi yang akurat, realtime dan terintegrasi. Dan salah satu solusi yang perlu digunakan adalah sistem geospasial yang komprehensif, atau lebih dikenal dengan GIS (Geographic Information System).

Esri Indonesia sebagai perwakilan resmi dari Esri yang merupakan perusahaan pengembang Sistem Informasi Geografis (GIS) yang berkantor pusat di Redlands, California menyediakan teknologi geospasial, location intelligence dan pemetaan.

“Mengapa industry migas dapat mengandalkan teknologi GIS? Solusi ini dapat menjawab kebutuhan informasi di semua fase hulu migas dari mulai new venture, eksplorasi,pengembangan dan produksi. Dengan memanfaatkan teknologi GIS, maka para investor bisa meningkatkan succes ratio, mengambil keputusan yang tepat, dan meminimalisir resiko,” kata Cahyo Nugroho,  Chief Industry Solution Officer Esri Indonesia kepada Energindo.co, di acara webinar (26/2).

Dijelaskan lebih lanjut, peran GIS di fase new venture antara lain dapat menganalisa spasial kondisi permukaan dan melakukan integrasi dengan hasil interpretasi subsurface. Menurutnya, kebanyakan informasi tersebut belum terstruktur dan belum terintegrasi sehingga perlu upaya restrukturisasi dan integrasi atas data-data yang tersedia termasuk membantu berbagi informasi atas interpretasi baru dari tim G&G dengan menggunakan satu platform.

Kemudian saat masuk fase eksplorasi di blok migas,  GIS dapat membantu investor melihat berbagai informasi penting dari suatu basin dan terintegrasi dalam satu platform yang terdiri dari berbagai layer seperti; informasi digital, analog, sumur, geologi, geokimia, geofisika, seismik, citra satelit dan sebagainya. “Dengan GIS maka operator dan partner blok migas tersebut dapat mengidentifikasi prioritas dan menghitung resiko leads dan prospect, sehingga kemungkinan penemuan lapangan baru dari pengeboran eksplorasi dapat tercapai.,” imbuh alumnus Chevron, Anadarko dan BHGE ini.

Setelah sukses eksplorasi dan masuk tahap pengembangan, maka GIS bisa membantu feasibility study terhadap pembukaan lahan untuk lokasi fasiltitas-fasilitas pendukung seperti FLNG, kilang, pipa dan sebagainya. Bahkan GIS juga bisa menentukan lokasi base logistik yang paling efektif dan efisien sampai dengan usia blok migas itu berakhir. “Jadi, pakai GIS, base logistik tak perlu dipindah-pindah lagi di area proyek. Kalau pindah-pindah kan bisa mengurangi nilai efisiensi,” katanya.

Masuk pada fase produksi, maka GIS bisa membantu terintegrasinya informasi secara holistik dalam bentuk visualisasi dashboard, analisa performa produksi sumur dan lapangan, hingga perencanaan perawatan sumur. Disamping itu, GIS juga bisa membantu menganalisa dampak-dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan dari aspek sosial dan lingkungan, misal program CSR yang paling efektif bagi masyarakat sehingga bisa merencanakan kontribusi yang optimal bagi perusahan dan masyarakat sekitar. 

“Dengan pemetaan yang efektif dari GIS maka yang untung tak hanya perusahaan tapi juga masyarakat sekitar,” tandasnya.

Solusi Andal

Sebagai solusi mutakhir, lanjut Cahyo, Esri mempunyai sebuah produk GIS andal, proven namun sangat mudah digunakan. Solusi standar dunia bernama ArcGIS ini terbukti bisa menekan efisiensi operasional migas hingga 20%. Sebenarnya, kata dia, di hulu migas Indonesia pun ArcGIS bukan “barang baru” karena telah dipakai di 32 KKKS (Kontraktor Kontrak Kerjasama) Migas yang pernah atau sedang beroperasi di Indonesia,

“ArcGIS dari Esri adalah solusi untuk sharing dan collaboration. Bisa dibilang sudah sekitar 50 persen lebih KKKS menggunakan ArcGIS baik itu regulator, BUMN, swasta nasional ataupun foreign investor,” ungkap Cahyo.

Lantas bagaimana mengintegrasikan platform informasidari provider teknologi hulu migas?

Esri memiliki berbagai mitra global yang telah mampu melakukan integrasi antara platform Esri dengan platform data lainnya. Misalnya, menampilkan cross-section data seismik,  melakukan analisa dari data sensor produksi, mengubah akuisisi drone menjadi dalam bentuk 3D, integrasi dengan augmented reality untuk aset yang tidak terlihat seperti di bawah tanah atau di bawah laut.

Keunggulan lain, dengan solusi ArcGIS bentuk dan arah wellbore dapat dianalisa. Bahkan inovasi terbaru yaitu memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence untuk mengidentifkasi ukuran serpihan batuan agar dapat memitigasi terjadinya resiko dalam pemboran.

“Alhasil dengan makin canggihnya solusi ini maka para scientist, engineer dan spesialis software bisa lebih mudah menggunakan software yang advance, dan realtime. Mereka, termasuk para analis pun bisa sharing input informasi dalam platform yang sama,” tukasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed