oleh

Chandra, Arungi Bisnis Cincin Berlian, Perusahaan Pialang, Konsultan Hukum Hingga Karaokean

-Profil-109 views

Peka melihat peluang usaha bisnis. Itulah kunci utama (selain ulet, tekun, berani dan istiqamah) kesuksesan seorang Chandra Kuwatly. Betapa tidak, saat usianya belum menapaki 30 tahun, pria kelahiran Madura ini turut membidani kelahiran perusahaan pialang. Tidak tanggung-tanggung, berkat kekuatan insting bisnis dan tangan dinginnya lahir 15 perusahaan pialang. Tidak hanya itu, suami Sefrida ini juga sempat berniaga cincin berlian sekaligus konsultan hukum. Bagaimana kisah suksesnya?

Ketika Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) kini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru dibentuk, pada tahun 1985 banyak kalangan pengusaha ingin masuk ke pasar modal. Selain masuk kategori bisnis yang relatif baru, usaha jenis ini juga membuka peluang keuntungan yang besar. Apalagi pemainnya masih sangat sedikit. Siapa pun pasti tergiur. Boleh jadi sudah menjadi garis tangan dan peruntungan Chandra, sapaan akrabnya, dia diminta oleh PT Gajah Tunggal Group untuk membuat perusahaan pialang. “Saat itu Dirjen Moneternya Bapak Oscar. Saya menghadap beliau dan menanyakan persyaratan mendirikan perusahaan pialang. Setelah dijelaskan, ternyata cukup berat juga persyaratannya,” kata Chandra pada energindo, Sabtu siang (19/1/2019) di Jakarta. Yang paling berat, setiap perusahaan harus memiliki seorang tenaga ahli.

Pasalnya, saat itu, untuk mencari tenaga expert bidang pialang tidak semudah membalikkan telapak tangan karena jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tenaga ahli pialang yang jempolan, boleh dibilang, hanya diperoleh dari lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Newzealand. Jadi tenaga ahli pialang hanya sedikit. Dari kondisi demikian, lahirlah regulasi: mencetak tenaga ahli bidang pialang.

Dari informasi tersebut, naluri bisnis eks karyawan Pelni Probolinggo Jawa Timur ini meletup-letup. Dia pun membatin: inilah saatnya berbuat sesuatu yang bermanfaat. Bermanfaat tidak saja bagi dirinya tetapi juga bagi perusahaan dan orang lain. Ia pun terngiang-ngiang dengan petuah salah seorang kiai dan gurunya: manusia yang paling baik itu harus bermanfaat bagi orang lain.

Dimasa itu, tahun 80-an, ada dua perusahaan yang memerlukan perusahaan pialang, yaitu PT Panin Group dan PT Gajah Tunggal. “Saya dapat order dari Gajah Tunggal dan Panin untuk buat perusahaan pialang,” kenang Chandra. Perusahaan pialang harus mendapatkan ijin dari Depatemen Keuangan (Depkeu), yang salah satu persyaratannya harus mempekerjakan tenaga ahli.

Naluri bisnis dan spirit untuk menjadi manusia bermanfaat bagi sesama memacu semangat Chandra. Perpaduan (naluri bisnis dan ghirah keagamaan agar menjadi manusia bermanfaat bagi sesama) kian membuncah dalam diri Chandra. SeteIah membuat perencanaan matang dan strategi jitu, Chandra pun merekrut para sarjana ekonomi. Mereka disekolahkan dan dididik menjadi tenaga expert bidang pialang. “Berkat kebijakan Pak Oscar membuat sekolah pialang, mayoritas mahasiswanya itu dari saya. Karena saya butuh banyak ahli pialang,” tutur Chandra.

Ada sekitar 20 an sarjana ekonomi yang direkrut. Proses perekrutannya dilakukan secara terbuka di media massa. Selain itu juga ada surat perjanjian dan legalitas yang sah. Setelah menyelesaikan masa pendidikan pialang, mereka bekerja diperusahaan yang dididirikan oleh Chandra. “Gaji mereka lumayan tinggi dan diberi fasilitas mobil,” ujar Chandra.

Chandra juga mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan pialang yang didirikannya itu dijual setelah memenuhi persyaratan berikut legalitas serta perijinannya dari Depkeu. “Kebetulan saya sedikit mengerti seluk-beluk hukum dan perijinan,” tutur sarjana muda hukum dari Universitas Merdeka Pasuruan Jawa Timur ini. Dari hasil penjualan perusahaan pialang tersebut, Chandra menangguk keuntungan yang lumayan gede. “Modal itu kita putar lagi. Kita investasi di tanah dan property di Cengkareng. Ada puluhan Ruko yang kita bangun,” ungkap eks karyawan PT Bogasari ini.

Chandra mengisahkan, sebelum terjun ke bisnis perusahaan pialang dan konsultan hukum, dirinya sempat bekerja di Bogasari. Di perusahaan tersebut, Chandra juga berkesempatan menimba ilmu di Jepang.

Ia belajar Total Quality Control (TQC) Managemant. TQC adalah perpaduan managemant tradisional Timur dengan managemant Barat atau modern. “Saya belajar selama kurang lebih 6 bulan di Negeri Matahari Terbit,” tandasnya. Dia juga ingat, di sekitar lokasi dan lembaga pendidikannya juga terdapat pabrik Ichiban. “Saya belajar banyak di perusahaan itu,” kenang Chandra. Dia belajar TQC dari hulu hingga hilir. Dari bahan baku mie, hingga marketing dan penjualan.

Setelah menyelesaikan masa pendidikannya, Chandra mudik ke Tanah Air. Kemudian Bogasari mengembangkan sayap bisnisnya. Mendirikan pabrik mie, Sarimie. Namun setelah sekian tahun, Chandra memutuskan berhenti. “Saya off dari perusahaan. Saya gabung dengan teman-teman ahli hukum,” tuturnya. Bersama mereka, pria penyuka cincin dan berlian ini pun merintis dan mendirikan biro konsultan hukum. “Saya gabung dengan kawan-kawan notaris dan pengacara,” katanya, sembari bercerita soal beberapa kasus yang ditanganinya. Disela-sela melayani konsultasi hukum, Chandra juga berbisnis cincin dan berlian. “Cincin itu kita desain sendiri. Saya hoby cincin. Kalau ada yang minat, ya saya lepas,” ujarnya, sembari tersenyum lebar.

Kendati usianya tidak muda tapi wajah Chandra tampak segar dan awet muda. Rupanya kelihaian dan kemerduan suaranya melantunkan lagu menjadi resepnya. Tidak aneh bila dia menjadi pimpinan Gateway Indonesia (GWI).

GWI adalah wadah bagi para penggemar karaoke. Mereka bisa bergabung. “Kalau sudah masuk ke server kami, cukup download semacam aplikasi yang kami miliki. Mereka bisa memilih untuk hanya mau dengar dengar saja atau ikut karaokean bisa,” kata mantan Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Daerah 09 Provinsi DKI Jakarta selama 2 periode.

Dulu, karaokean di radio melalui saluran telepon, saat ini karaokean di radio bisa melalui internet. Dia menambahkan, “Ini adalah terobosan teknologi yang kami sempurnakan, dimana para penggemar karaoke bisa bergabung, bisa karaokean dari rumah hanya modal laptop atau komputer yang tersambung dengan jaringan internet dan tentunya dilengkapi mike dan speaker untuk bisa bernyanyi”.

Saat ini Chandra hanya ingin membaktikan dirinya dalam organisasi sosial-keagamaan. Diantaranya, Chandra didaulat untuk menakhodai Forum Silaturahim Sumenep (FORSIP), organisasi sosial yang beranggotakan warga Sumenep perantauan di berbagai wilayah Nusantara. “Di Forsip itu sifatnya pengabdian dan sosial. Tidak ada profit,” katanya. Selanjutnya, soal hidup dan kehidupan, mantan Ketua Umum Partai Pembaharuan Indonesia ini berujar, “Saya tinggal menikmati sisa hidup saja sambil bersyukur atas semua nikmat dan karunia Allah SWT pada kami”. (Sof)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed