oleh

Dewan Pers: Spirit Jurnalisme Tangkal Berita Bohong

-Nasional-16 views

Pers sejatinya tidak partisan agar dapat menjalankan tugasnya secara independen. Dengan independensi, berita yang disajikan diharapkan ada objektivitas.

“Media jangan partisan. Boleh saja pemilik media berafiliasi pada pihak partai tertentu,” kata anggota Dewan Pers, Ahmad Jauhar dalam satu diskusi bertajuk “4 Tahun Kinerja Pemerintah dan Objektivitas Pers” pada Jumat (23/11/2018) di Jakarta. Acara diskusi yang dipandu M. Fauzi, editor Media Indonesia ini digagas oleh Jaringan Nasional Jurnalis Anti Hoax.

Menurut Ahmad Jauhar, seiring dengan era demokrasi dan keterbukaan yang memberi ruang bagi media untuk memberitakan apa pun, termasuk kritik pada pemegang kekuasaan/pemerintah maka pemerintah pun dituntut untuk berhati-hati dalam mengeluarkan regulasi. “Jangan sampai pemerintah justru dianggap memproduksi berita hoax karena kebijakannya berubah-ubah dalam waktu singkat. Contohnya soal kenaikan harga BBM yang diralat dalam waktu hanya dalam tenggat beberapa jam,” kata Ahmad Jauhar. Karena hal ini membingungkan rakyat. Karena tidak semua orang secara terus menerus meng up date pemberitaan tersebut.

Dia pun membandingkan saat Orde Baru mengeluarkan satu regulasi. “Saya ingat bagaimana satu regulasi sebelum diberlakukan, proses kajiannya sangat lama dan komprehensif sehingga ketika diputuskan ya tidak berubah lagi dalam waktu singkat,” ungkap Ahmad Jauhar.

Menurutnya, media menulis kinerja pemerintah bukan sesuatu yang haram. Tetapi harus proporsional. “Jangan hanya mengiyakan saja. Wartawan itu harus skeptis dulu, lalu mencari tahu kebenarannya,” ujar Ahmad Jauhar.

Lebih jauh dia juga menyoroti fenomena berita bohong atau hoax yang terus menerus diproduksi. Apalagi menjelang Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden-Wakil Presiden (Capres – Cawapres) tahun 2019. “Berita hoax terus-menerus diproduksi oleh parpol dan politikus yang tidak layak dipilih hingga akhirnya terplih,” katanya.

Ditengah situasi semacam itu, lanjut Ahmad Jauhar, semangat jurnalisme dapat menangkal atau setidaknya, meminimalisir makin marak dan tersebarnya berita bohong. Berita bohong itu bisa datang atau diproduksi dari mana pun. Bisa juga diproduksi oleh media abal-abal. “Masyarakat harus cerdas dalam memilih dan memilah informasi. Dan disinilah masyarakat membutuhkan media,” katanya. (Sof)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed