oleh

DPR : Pertamina Tekor Rp 3.441 Per Liter dari Jual Premium

-Minyak-21 views

Melambungnya harga minyak dunia yang mencapai USD. 80.- per barel serta menguatnya kurs dolar akibat bank sentral Amerika menaikkan suku bunga. Apa pengaruhnya terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) di Tanah Air?

Menurut Inas N. Zubir, Wakil Ketua Komisi VI DPR, sebagai negara nett importer, Indonesia mengimpor minyak mentah dan BBM jadi sebanyak 55% dari kebutuhan nasional melalui Pertamina.

Pertamina dalam menghitung harga bensin Premium atau RON/Mogas 88 berdasarkan rata-rata 3 bulan sebelumnya, lalu berapa rata-rata harga yang diperoleh untuk Agustus 2018 – Oktober 2018 adalah sebagai berikut:

“Rata-rata harga MOPS Mogas 92 pada periode Agustus 2018 – Oktober 2018 sebesar USD. 88.67 per barel, patokan harga MOPS Mogas 88 periode yang sama adalah MOPS Mogas 92 – USD. 2.5,” ungkap Inas.

Rata-rata Harga CFR MOPS Mogas 88 yang dibeli oleh Pertamina, ungkap Inas, menggunakan formula MOPS Mogas 92 – USD. 2.5 = USD. 86.17 per barel dan rata-rata kurs dollar Januari 2018 -Maret 2018 Rp. 14,700.-. “Jika kita hitung maka diperoleh rata-rata harga pokok Mogas 88 (Bensin Premium) per liter = 86.17 x 14.700,-/ 159 = Rp. 7,966.70,” paparnya.

Selain itu, kata Inas, ada PPN 10% dan PBBKB 5% dari harga pokok tersebut, maka diperoleh angka Rp. 1,195.- serta biaya distribusi plus penyimpanan adalah Rp. 830,- per liter, maka harga keekonomian premium pada bulan Oktober 2018 seharusnya adalah Rp. 9,991.70 per liter.

Sedangkan harga Premium sekarang ini adalah Rp. 6,550.- jadi Pertamina tekor Rp. 3,441.70 per liternya sehingga pemerintah perlu melakukan penyesuaian agar tidak membebani Pertamina.

“Keberpihakan kepada masyarakat memang penting, tapi menjaga agar Pertamina tidak bangkrut juga sangat penting, karena justru keberadaan Pertamina itu untuk memenuhi kepentingan masyarakat dalam hal BBM,” tandas Inas.

Ketika diminta komentar terkait pendapat Inas tersebut, Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman menegaskan dari tekor harga per liter Premium itu, maka Pertamina dari menjual Premium untuk 3 bulan kedepan adalah sekitar Rp 10.325 Triliun. Perhitungan tersebut berdasar rata-rata tiap bulan Pertamina harus menyediakan Premium 1 juta KL (Kilo Liter).

“Tapi bila dihitung dengan potensi kerugian harga Pertalite sekitar Rp 9.660 Triliun berdasarkan tiap bulan menyuplai 1.4 juta KL, dan Solar Rp 11.060 Triliun dari perhitungan tiap bulan menyuplai 1.3 jt KL, maka secara matematis diperoleh potensi kerugian Pertamina di akhir tahun menjadi Rp 30 Triliun,” papar Yusri, dalam keterangannya, Sabtu (13/10/2018) di Jakarta. Kebijakan pemerintah ini berpotensi berbahaya bagi keuangan Pertamina.

Akibatnya, lanjut Yusri, Pertamina tidak bisa melakukan banyak kegiatan eksplorasi dan membangun infrastruktur strategis minyak dan gas bumi (Migas) seperti up grading kilang dan terminal blending dan penampung BBM, LPG dan lainnya.

Selain itu, lanjut Yusri, disparitas harga yang sangat tinggi akan menyebabkan terjadi kerawanan penyeludupan BBM oleh oknum mafia yang bekerjasama dengan oknum aparat.

Terkait polemik mengapa kebijakan Menteri ESDM setelah mengumumkan kenaikan Premium Rp 500 per liter tetapi sejam kemudian dibatalkan Presiden Jokowi, Yusri berpendapat, “Tidak mungkin Menteri Jonan berani menaikkan harga BBM tertentu dan khusus penugasan tanpa dirapatkan dengan Menko Perekonomian dan sudah mendapat persetujuan Presiden. Tentu (mungkin) saja Presiden mendapat masukan setelah diumumkan dari timsesnya bahwa kebijakan itu akan mengancam elektoralnya di Pilpres 2019”. Yusri menambahkan, dirinya tidak percaya terhadap alasan Pertamina tidak siap. “Terlalu mengada-ada dan pakai akal sehat sajalah menilainya,” tutup Yusri. (Sof)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed