oleh

Enam Parameter yang Harus Diperhatikan Bagi Pengembangan PLTB

Jakarta, energimdo — Kementerian ESDM (Energi Sumber Daya Alam) menyatakan, setidaknya ada dua PLTB yang sudah beroperasi yaitu Sidrap dan Tolo Jeneponto. Untuk PLTB Jeneponto Unit I 72 MW telah COD (Commissioning Operation Date) tahun 2018 lalu dan akan menyusul PLTB Jeneponto II 72. Lalu untuk PLTB Sidrap 75 MW juga sudah commissioning dan akan menyusul Sidrap II 200 MW.

Proyek lain yang sedang digarap adalah PLTB Garut berkapasitas 150 MW, Pandeglang berkapasitas 150 MW, Lebak berkapasitas 150 MW, Gunung Kidul berkapasitas 10 MW, Bantul berkapasitas 50 MW, Belitung Timur berkapasitas 10 MW, dan Tanah Laut berkapasitas 70 MW. 

Selain itu, ada Proyek PLTB Selayar berkapasitas 5 MW, Majene berkapasitas 30 MW, Buton berkapasitas 15 MW, dan Oelbubuk Soe serta NTT berkapasitas masing-masing 20 MW.

Terbaru adalah Proyek PLTB Sukabumi berkapasitas 10 MW dan PLTB Sukabumi II berkapasitas 150 MW di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Keduanya ditargetkan selesai dibangun pada 2024.

Proyek PLTB Sukabumi dibangun perusahaan multinasional UPC Renewables yang sebelumnya berhasil membangun kincir angin pertama di Indonesia, PLTB Sidrap, di Sulawesi Selatan.  Proyek PLTB Sukabumi juga telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Provinsi Jawa Barat oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat dan didukung penuh pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Semua PLTB tersebut merupakan daftar proyek yang sudah masuk dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Tapi ada juga Proyek PLTB  yang masih sampai tahap studi kelayakan (Feasibility Study/FS). Di antaranya di Timor Tengah Selatan berkapasitas 2×10 MW, Sumba Timur berkapasitas 3 MW, Lombok berkapasitas 15 MW, Ambon berkapasitas 15 MW, Kei Kecil berkapasitas 5 MW, serta Saumlaki berkapasitas 5 MW.

Perlu Perhatikan Enam Parameter

Malik Ibrochim, salah seorang pengurus di Asosiasi Energi Angin Indonesia (AEAI), menyatakan, mendukung keseriusan pengembangan PLTB yang dilakukan oleh Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mempercepat transisi Indonesia ke energi bersih. 

Akan tetapi, kata dia, setidaknya ada enam parameter yang harus diimplementasikan agar proyek PLTB di Indonesia dapat berhasil. Berikut penjelasannya pada energindo.co,  belum lama ini daam hubungan telepon.

1. Potensi angin 

Negara subtropis seperti Indonesia memiliki kecepatan angin yang berbeda-beda, mulai dari rata-rata 2 digit yaitu 10 m/detik atau lebih besar lagi yaitu 5m/detik hingga 7m/detik per tahun. Kecepatan angin ini tidak bisa dipukul rata dan disimpulkan begitu saja bahwa potensi angin Indonesia adalah skala menengah, karena potensi angin bersifat spesifik tempat (site spesific). Ini harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan dan juga hasil FS yang akurat terlebih dahulu.

Jadi adalah salah anggapan bahwa PLTB Indonesia hanya cocok menggunakan turbin angin skala menengah. Ini karena setiap turbin angin punya spesifikasi yang berbeda termasuk dan diperlihatkan pada kurva dayanya.

2.Jaringan listrik 

Jika PLTB berada di grid Jawa-Bali maka dipastikan grid listrik sudah kuat, terlebih banyak proyek PLTU dan PLTGU yang baru. Tapi akan berbeda jika di luar grid tersebut. 

3. Infrastruktur

Jika akses jalan ke proyek PLTB memungkinkan truk tronton untuk mengangkut bilah yang panjangnya mencapai puluhan meter, maka perihal logistik tidak ada banyak masalah.

Tapi jika tidak memungkinkan, maka perlu mencari produk yang compatible terutama untuk bilah. Masing-masing pabrikan turbin sudah memikirkan kepraktisan untuk menjawab tantangan ini.

4. Ketersediaan lahan

Jika potensi bagus tapi lahan sempit maka sebaiknya menggunakan turbin yang lebih besar sekalian. Karena jika memakai banyak turbin dikhawatirkan tidak feasible termasuk untuk assembly point_nya nanti. Lahan PLTB juga harus dipastikan Clean and Clear dalam semua aspek perizinan.

5. Pembiayaan 

Dari sisi pembiayaan perlu bertanya apakah penyedia teknologi bisa mendukung dengan sistem pembiayaan yang memudahkan? Jika pembiayaannya telah ada, maka pengerjaan proyek akan lebih baik karena proses birokrasinya bisa lebih pendek sehingga eksekusi proyek PLTB juga bisa lebih cepat.

6. Proven produk PLTB

Perlu dilihat proven produk untuk PLTB di negara lain, termasuk negara tetangga karena sumber dayanya relatif sejenis serta masih sama-sama berlokasi di wilayah geografi dengan iklim tropis. Hal ini agar jika terjadi masalah maka kita bisa belajar dari case study PLTB negara lain. Jika kita bisa melihat dari yang eksisting, maka lebih baik.

Kemudian dari sisi SLO (Sertifikat Layak Operasi) produk, penting untuk bertanya apakah sudah diterbitkan oleh Pemerintah/Instansi terkait yang kompeten atau belum. Hal ini penting supaya tidak ada masalah dalam proyek pengerjaan nantinya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed