oleh

Gardu Induk Digital Bisa Kurangi Kebutuhan Lahan

Jakarta, energindo.co.– PT PLN (Persero) saat ini sedang mengembangkan 2 proyek  Gardu Induk Digital (GI) di GI 150kV Sepatan II Grid dan GI 150kV Teluk Naga II Grid di  Tangerang, Banten Keduanya adalah proyek percontohan sekaligus merupakan penerapan gardu listrik digital pertama di Indonesia

GI digital ini nantinya memungkinkan PLN  memiliki informasi real-time tentang bagaimana energi listrik mengalir di dalam jaringan, memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat dan ketersediaan listrik yang lebih besar.Alhasil visibilitas aset jadi lebih terjaga, dan jika ada masalah pada jaringan listrik atau peralatan, bisa lebih mudah teridentifikasi; sehingga persoalan yang muncul bisa dipecahkan lebih cepat, pada titik yang tepat.

Selain itu, GI digital juga menawarkan sejumlah keunggulan lain termasuk lebih sedikit kabel tembaga hingga 200 km, menghemat hingga 80% untuk biaya kabel & waktu, jejak karbon hingga 30% lebih kecil dan siklus operasional pembangkit yang 15% lebih lama.

Menanggap hal ini, Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat, Haryanto WS mengakui, penerapan GI digital saat ini masih dalam tahap pertama uji coba atau pilot project PLN. Ia juga mengakui, teknologi GI digital memang masih awal maka masih mahal sekarang.  Untuk itu ia berharap nantinya harganya juga semakin murah.

“Kedepan jika PLN sudah sangat yakin pengembangan teknologinya atau sudah matang dan lebih menguntungkan dari berbagai faktor. Lalu sepanjang cost benefit dan manfaatnya lebih keterima atau  lebih baik dibandingkan faktor yang lain, maka PLN akan mempertimbangkan ini sebagai bagian dari perkembangan yang tidak bisa dihindarkan,” jelasnya kepada energindo(31/12) di Jakarta.

Diantara faktor lain tersebut salah satu, kata Haryanto adalah masalah keterbatasan lahan. Oleh karena itu Haryanto melihat teknologi ini sudahmumpui dandapat dilakukan secara sempurna utamanya dalam mereduksi kebutuhan lahan. “Di wilayah Jakarta bisa menjadi pertimbangan utama kedepan dalam menggunakan teknologi digital sub station ini nantinya karena memang tanah di Jakarta sudah mahal,” tandasnya.

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed