oleh

Ini Kata Christiana Figueres Terkait Tantangan Disruptive Ekonomi

Jakarta, energindo — Pandemi Covid-19 telah menciptakan fase disruptive ekonomi secara global dan regional ASEAN. Alhasil berbagai pengembangan sektor mengalami kompleksitas dan kontradiksi.

“Faktanya kita harus melakukan cara menumbuhkan kembali ekonomi,” jelas Christiana Figueres
Founding Partner, Global Optimism, former Executive Secretary UNFCC, dalam acara webinar Catalysing ASEAN Connectivity, StandardChartered ASEAN Business Forum (21/10).

Ditambahkannya, disruptive ekonomi merupakan tantangan besar karena berdampak pada perubahan ekosistem ekonomi secara alami sehingga perkembangan ekonomi beberapa Negara termasuk di ASEAN sangat lambat.

Pun pada akhirnya ini juga berdampak dalam pada perdagangan. Belum selesai masalah ekonomi, dunia saat ini menghadapi tantangan dari perubahan iklim.

Contohnya adalah cuaca ekstrim yang membuat beberapa Negara mengalami suhu panas tinggi. “Semuanya ada di berita sehingga orang-orang cenderung melakukan proteksi keuangan,” katanya.

Kabar baiknya, lanjut dia, saat ini sudah ada perusahaan yang komitmen melawan perubahan iklim. Mereka akhirnya memikirkan bagaimana cara mengurangi carbon netral dalam investasi dan merubah supply chain secara signifikan untuk mengurangi emisi.

“Mereka sebenarnya mengejar sebelum 2040 karena mereka paham bahwa jika targetnya tahun 2050 maka akan terlambat yang berdampak pada kelanjutan bisnis,” jelas Christiana.

Disisi lain, ia melihat dalam kesepakatan Glasgow Net Zero Emission (NZE) dimana Stanchart merupakan salah satu pendirinya, akhirnya telah menambah aliansi strategis untuk mengurangi emisi karena tercatat lebih dari 160 perusahaan bersama-sama menjaga aset 70 triliun dollar.

“Inisiatif sektor keuangan ini telah menambah akselerasi transisi 2050 dekarbonisasi,” kata Christiana,

Di antara cara yang dilakukan untuk melawan perubahan iklim adalah dengan mengembangkan pembangkit EBT (Energi Baru Terbarukan) untuk pasokan listrik bagi operasi manufakturnya.

“Untuk Negara-negara ASEAN saya lihat sudah sangat menerima terhadap perubahan-perubahan ini dalam market_nya,” ungkap Christiana.

Ini artinya di ASEAN ada tren dekarbonisasi sehingga bisa mendapatkan peluang akses modal dan menambah modal. Terlebih permintaan energi ASEAN bertambah dalam dekade terakhir, maka pada akhirnya menciptakan pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, dan digitalisasi.

“Digitalisasi ini bergantung sekali pada energi.Sedangkan energi sendiri harus ditunjang availability. Untuk itu dekarbonisasi adalah kunci untuk bertumbuh di ASEAN,” pungkas Christiana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed