oleh

Iqbal Adnan Bicara Risiko Unforeseen Conditions di Proyek EPC Sektor Energi

M Iqbal Adnan, Praktisi EPC, menyatakan, terdapat beberapa risiko-risiko klasik proyek EPC energi secara umum. Diantaranya; risiko keamanan, pasar, pembiayaan, teknis, pelaksanaan proyek, dan tenaga kerja.

“Tapi ada juga risiko “unforeseen conditions”, risiko yang baru muncul kepermukaan, baik secara formal legal dokumen tender dan technical, pada saat pelaksanaan. Biasanya baru ketahuan ada ekstra risiko yang berakibat pada technical, quality, cost, dan schedule project. Untuk solusinya risiko ini, perlu team work yang solid dan koordinasi yang baik dari berbagai pihak,” katanya.

Lalu risiko apa saja yang merupakan unforeseen conditions itu dan apa saja yang menjadi faktor solusinya? Kita ikuti wawancara Energindo bersama Direktur Operasi Dalle Energi ini, di Jakarta.

Sebenarnya apa risiko unforeseen conditions?

Dalam proses EPC, desain paket disiplin sipil harus menunggu loading data dari manufaktur dan informasi dari berbagai vendor-vendor, baik itu mengenai beban statis atau dinamis dan lainnya. Masukan ini sebagai dasar penentuan desain karena pekerjaannya paralel atau butuh interphase dari banyak pihak serta berbagai disiplin ilmu yang akan berpengaruh pada master schedule project.

Misalnya, pekerjaan tiang pancang terlambat karena loading data vendor terlambat, menjadikan semua pekerjaan berikutnya tidak sesuai dengan sequence construction-nya. Kalau itu terjadi, maka risiko kena penalti kelambatan proyek sampai maksimal 10 persen dari nilai EPCnya. Jika kena penalti, kita tidak bisa mengharapkan margin lagi. Lalu jika tiang pancang dan civil foundation sudah jadi namun fabricator belum mengirimkan produknya ke site sesuai jadwal bisa mengakibatkan delay schedule erection EPC.

Jadi delivery dari fabricator juga faktor risiko penyelesaian proyek?

Ya, bisa seperti itu. Karena jika sebagian delivery equipment masuk dalam long lead items, itu merupakan lintasan kritis master schedule sehingga potensial kelambatan schedule project. Idealnya selama menunggu proses pabrikasi dan assembling, dari vendor sudah memberi masukan awal untuk desain sipil/mechanical/electrical/process, sehingga manajemen waktu proyek EPC bisa lebih efektif dan mampu mengurangi risiko.

Bagaimana dengan risiko derating mesin-mesin yang kerap terjadi?

Derating dalam beberapa kasus masih wajar selama penurunannya tidak signifikan dan dalam toleransi sesuai rekomendasi manufaktur. Umumnya derating dipengaruhi oleh cuaca/iklim/kondisi setempat dan faktor-faktor lainnya.

Saya rasa beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan EPC dengan baik adalah adalah shipment dan inland transportation yang memperhatikan jadwal konstruksi seperti; site preparation, sequence of construction, piling & civil work, mechanical & electrical work, instrument & control, painting & installation dan schedule pre- com juga comissioning.

Shipment sebaiknya sesuai jadwal master schedule dan jangan dijadikan satu paket shipment sekaligus, seperti eguipment kecil hingga paling besar dijadikan satu shipment kapal besar untuk menekan ongkos. Cara ini tidak mengikuti sequence construction sehingga pada akhirnya terjadi penumpukan barang di site sebelum diperlukan dan timbulnya biaya penyimpanan barang/material dan biaya preservasi yang tinggi.

Setelah dipasang apa langkah selanjutnya?

Setelah fase project mechanical completion, artinya barang dipasang sesuai desain dan secara mekanik sudah siap untuk pre-comissioning pada setiap sub system paket. Jika semua sub system pre-comissioning sukses, maka semua sub-sistem diintegrasikan menjadi commmisining untuk seluruh sistem paket.

Setelah itu dilakukan RR (reliability running), artinya produk akan beroperasi selama 30 hari non-stop untuk melihat kinerja operasionalnya. Setelah itu, performace test berbagai parameter kinerja power plant harus sesuai dengan persyaratan kinerja yang termaktub dalam dokumen kontrak. Perhitungan parameter jika sudah terpenuhi maka performace test dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan Sertifikat Laik Operasi (SLO).

Dalam operasional nantinya, semua main equipment dari boiler, turbin, generator, dan balance of plant harus mengikuti acuan preventive maintanance yang ditentukan oleh manufacture. Preventive maintenance artinya semua peralatan telah teridentifikasi umur ideal operasinya untuk kinerja yang sesuai. Preventive maintenance ini dilakukan sesuai dengan standar dan rekomendasi dari manufacture masing-masing peralatan baik jadwal penggantian atau perbaikan dan lainnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed