oleh

IRESS Pertanyakan Investasi Smelter China

Jakarta, energindo–Direktur Eksekutif Indonesian Resource Studies (Iress), Marwan Batubara, mempertanyakan investasi smelter China di Indonesia. Pasalnya, kata dia, investasi itu belum mampu meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara.

“Padahal, Pemerintah Indonesia harusnya berusaha untuk menarik sebanyak-banyaknya investasi masuk ke tanah air. Tetapi pada kenyataannya tak serupiahpun uang masuk ke tanah air. Indonesia hanya mendapatkan sampah industri nikel.,” katanya dalam keteragan pers yang diterima, (02/03).

Disisi lain, lanjut dia, investasi smelter nikel di tanah air telah menghancurkan alam tanah air. Ini karena para investor China hanya menerima bijih nikel kadar tinggi sehingga sampah tambang yang berupa limonite (bijih nikel kadar rendah) yang jumlahnya dua pertiga dari penambangan menjadi gundukan tanah yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana dan kerusakan lingkungan.

Selain itu, permasalahan yang lebih krusial adalah penggunaan tenaga kerja asing (TKA). Dengan dalih tenaga kerja lokal tidak memiliki skill yang dibutuhkan, mereka mengimpor tenaga kerja dari China. Padahal, tenaga kerja yang mereka datangkan tidak sesuai dengan regulasi di Indonesia.

“Mayoritas dari tenaga kerja asing yang mereka datangkan adalah pekerja kasar yang di dalam negeri sangat berlimpah seperti Satpam, tukang las, operator alat berat, supir, dan lainnya,” tuturnya.

Hal ini sesuai pengumuman perekrutan yang mereka buat di media berbahasa mandarin. PT. Virtue Dragon Nickel Industri (VDNI) dan PT. Obsidian Stainless Steel (OSS) dalam perekrutan tenaga kerja asing telah me-release di dua media asing.

Berdasarkan data yang diperoleh IRESS, tingkat pendidikan tenaga kerja asing asal China yang bekerja di industri nikel tanah air komposisinya adalah sebagai berikut, SD 8%, SMP 39% dan SMA 44%. Lulusan D3/S1 hanya 2% dan berlisensi khusus 7%. Dari komposisi tersebut, yang bekerja di smelter OSS kualifikasi TKA-nya adalah lulusan SD 23%, SMP 31% dan SMA 25%, lulusan D3/S1 17% dan TKA berlisensi khusus hanya 4%. Sedangkan pada VDNI hanya 1 dari 608 orang TKA yang memenuhi syarat pengalaman kerja 5 tahun.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed