oleh

Kampus Harus Aktif Dukung EBT

-EBT-102 views

 

Jakarta, energindo — Transisi energi melalui pemanfaatan energi terbarukan berpotensi membantu Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Agenda NZE sendiri telah disinggung oleh para pemimpin dunia dalam pertemuan forum ekonomi dunia G20, Oktober lalu, dan Konferensi Perubahan Iklim COP26, November kemarin.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Eng. Agus Haryono, dalam paparannya di acara The 10th Indonesia EBTKE ConEx mengatakan, pihaknya terus menggalakan inovasi dan penelitian di bidang energi terbarukan. “Support yang diberikan oleh BRIN adalah pembangunan dan penyediaan infrastruktur riset yang mumpuni, peneliti yang berkualitas, serta dukungan teknologi lainnya,” ungkap Dr. Agus dalam acara yang diselenggarakan secara daring tersebut, Jumat (26/11).

Dalam hal SDM pelaku riset, Plt. Dirjen Diktiristek, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Prof. Ir. Nizam, menyatakan, saat ini berbagai riset unggulan terkait pengembangan energi terbarukan telah sampai di level akademik. “Misalnya pembangunan dan pengembangan PLTS dan Pusat Riset Tenaga Surya di Lampung, PLTP Binary Cycle di Lahendong, PLTB Sidrap, dan PLTP Kamojang. Proyek-proyek tersebut merupakan hasil kerja sama perguruan tinggi dengan industri. Jadi, secara langsung melibatkan para akademisi di level universitas. Kedepan, kolaborasi semacam ini akan terus digalakan,” pungkas Prof Nizam.

Sementara itu, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Ir. I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja, Ph.D, memberikan perspektif transisi energi dari sisi universitas. Sebagai universitas yang fokus pada bisnis dan teknologi energi, Universitas Pertamina berkomitmen melahirkan SDM unggul yang akan melakukan program-program strategis dalam mendukung transisi energi.

“Perguruan tinggi adalah ujung tombak pengembangan SDM serta tempat lahir dan berkembangnya sains dan teknologi. Karenanya, dalam mendukung target transisi energi, perguruan tinggi seperti Universitas Pertamina, telah mempersiapkan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan energi nasional dan global. Salah satunya, menghadirkan mata kuliah terkait energi terbarukan,” ujar Prof Wirat.

Selain itu, lanjut Prof Wirat, penting bagi perguruan tinggi untuk melahirkan SDM yang tidak hanya cakap di bidang keilmuan. “Mereka juga harus mahir secara praktik, dan memiliki kepedulian serta empati terhadap lingkungan dan masyarakat.

Di Universitas Pertamina, ada istilah konsep 3H, head, hand, and heart. Head merupakan tempat berlabuhnya segala pengetahuan. Hand artinya mereka mengasah kemampuan yang dikembangkan dari pengetahuan yang mereka miliki. Heart adalah pondasi bagi kebermanfaatan pengetahuan dan keterampilan untuk sesama,” tutur Prof Wirat.

Di tengah disrupsi teknologi, kemajuan peradaban yang begitu pesat, ditambah kehadiran pandemi COVID-19, menurut Prof Wirat, perguruan tinggi harus terus meningkatkan kualitas pembelajaran yang optimal. “Ke depan, universitas tidak hanya menjadi tempat dosen memberikan materi perkuliahan kepada mahasiswa. Tetapi akan menjadi student center interconnected. Artinya, universitas akan menjadi tempat bertemunya mahasiswa dengan permasalahan riil di masyarakat melalui kerja sama multipihak. Sehingga, universitas akan menjadi pusat problem solving, tempat kalibrasi sekaligus pusat entrepreneurship,” lanjut Prof Wirat.

Dalam pengembangan energi terbarukan, menurut Prof. Wirat, pendidikan adalah dasar bagi kearifan masyarakat untuk menyadari dan menerima adanya era baru dalam perkembangan energi. Sehingga, universitas dapat mengambil peran dalam pengembangan keilmuan, sekaligus sosialisasi transisi energi secara komprehensif dan intensif kepada masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed