oleh

Karen; Kebijakan Akuisisi Blok Migas Demi Menumbuhkembangkan Pertamina

Jakarta, energindo.co – Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan yang sekarang menjadi terdakwa dalam kasus akuisisi Blok BMG, menyatakan,khawatir bisnis hulu migas Indonesia terancam mandeg apabila setiap kegagalan dalam produksi diakhiri dengan pemidanaan penanggung jawab proyek.

Secara otomatis, katanya, itu akan berpengaruh pada produksi dan ketahanan stok migas. Apabila tidak ada eksplorasi, dipastikan kebutuhan migas Indonesia akan bergantung pada produk impor. Karen pun mengatakan kebijakan akusisi itu diambil setelah melakukan sejumlah evaluasi. Ia juga menegaskan hasil akuisisi terhadap bisnis hulu migas tak bisa dipastikan.

“Yang namanya hulu migas itu sekali lagi, tidak ada yang bisa memastikan berhasil atau tidak,” jelas Karen.

Oleh sebab itu, Karen berharap kasus yang dialaminya tidak menimpa pada direksi-direksi lain yang memang memiliki keseriusan untuk menumbuhkembangkan Pertamina.”Itu penuh risiko. Kalau misalnya Pertamina tidak boleh ambil risiko, ya sudah Pertamina khusus untuk SPBU saja jualannya,” katanya.

Dia membantah keputusan untuk akuisisi blok BMG ini mengakibatkan kerugian negara. Pasalnya dalam track record keuangan Pertamina selama dia menjabat, justru laba Pertamina melesat tinggi.

“Kalau dibilang ada kerugian negara sejak kapan Pertamina akibatkan kerugian keuangan negara. Semenjak saya memimpin di tahun 2009, namanya laba itu meningkat dari USD1,6 miliar jadi USD3,2 miliar di tahun 2013, jadi di mana saya akibatkan kerugian negara,” pungkas Karen.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed