oleh

Keniscayaan Digitalisasi Hulu Migas (Bagian 1)

Keniscayaan Digitalisasi Hulu Migas (Bagian 1)

Sektor hulu migas (minyak dan gas) saat ini masih dibayang-bayangi tantangan Triple Shock, yaitu; melemahnya harga minyak dunia, tingginya nilai tukar dolar dan terjadinya Pandemi Covid-19. Demi mengatasinya, perlu berbagai upaya terobosan dimana salah satunya adalah digitalisasi teknologi. Terlebih, Indonesia memang sedang menargetkan produksi 1 juta barrel minyak dan 12 BSCFD gas pada tahun 2030 nanti.

Digitalisasi teknologi dipercaya menjadi syarat mutlak bagi setiap perusahaan hulu migas jika ingin bertahan di situasi Triple Shock. Alasannya, karena digitalisasi dapat mengintegrasikan peralatan, layanan, dan solusi seluruh spektrum produksi dan pengolahan migas, dimana pada akhirnya menghasilkan keandalan, efisiensi biaya dan waktu aktif.

“Dibandingkan teknologi analog, dengan digital bagian-bagian kegiatan hulu migas bisa dibuat aplikasinya sendiri sesuai dengan situasi. Digitalisasi juga dapat meningkatkan tingkat recovery. Misalnya ambil 1% saja, maka dapat menambah produksi minyak 80 miliar barel atau setara dengan produksi minyak global selama kurang lebih tiga tahun,” kata Direktur Baker Hughes Indonesia, Iwan Chandra pada energindo, ditulis kembali (07/06).

Sementara itu Taslim Yunus, Staff Ahli SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas), menjelaskan, digitalisasi teknologi hulu migas memang termasuk dalam program mendapatkan 1 juta barel nanti tahun 2030.  Dan digitalisasi termasuk salah satu dari 5 bagian transformasi yang dilakukan SKK Migas yaitu; clear vision, smart organization, one door service policy, dan commercialication.

“Jadi digitalsasi adalah slah satu dari 5 langkah quick win enablers SKK Migas selain one doors service policy, penggunaan barang milik Negara, fasilitas bagi hasil guna menjaga keekonomian lapangan dan penghapusan PPN LNG.” ungkapnya dalam acara pelucuran LKJ (Lomba Karya Jurnalistik) SKK Migas, Rabu, (28/4).

Terkait momok digitalisasi hulu migas yang butuh nilai investasi yang mahal. Iwan Chandra, menyatakan, sebenarnya nilai itu tidak berbeda jauh dengan layanan konvensional. “Ini bisa dilihat dari WP&B para KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dimana biaya untuk penunjang migas konvensional maupun digital tidak terlalu beda jauh dan cenderung sama, tetapi hasilnya lebih baik,” tukas Iwan..

Tapi apa manfaat dan bagaimana prosesnya pada saat masih eksplorasi?

Cahyo Nugroho, Chief Industry Solution Officer Esri Indonesia, menjelaskan, sebenarnya manfaat digitalisasi hulu migas bisa membantu sejak pra eksplorasi. Misalnya untuk mengetahui jenis, potensi dan cadangan migas dalam bentuk peta formasi geologi struktur. “Jadi informasi sub surface digital bisa kita dapatkan lewat teknologi melalui citra satelit, rusteer, drone. Nantinya tampilan bisa secara 3 dimensi,” katanya kepada energindo di acara webinar (26/2).

Dituturkannya, ini akan membantu pengambilan data di area remote termasuk menganalisa geologi, geofisika, geokimia, dan analisa-analisa lain. Setelah lengkap semua data sampai pengeboran dangkal sample geologi yang ada dibawah lalu dilakukan analisa geokimia dan meng_overlay sehingga menjadi rujukan, mempercepat proses akurasi data dan pengambilan keputusan.

Dengan bantuan AI (Artificial Intelligent) pada masa eksplorasi, lanjut dia, maka akurasi, kualitas, kecepatan pemrosesan data dan menyajikan data menjadi tampilan 3D sehingga memberikan perspektif yang lebih lengkap dalam mengambil keputusan. “Termasuk menghindari dryhole sebelum mengebor,” tandas Cahyo.

Memasuki fase pengeboran, teknologi digital ternyata juga banyak membantu dan sudah diterapkan. Seperti apa?

(Bersambung ke bagian 2)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed