oleh

Keniscayaan Digitalisasi Hulu Migas (Bagian 2)

Keniscayaan Digitalisasi Hulu Migas (Bagian 2)

Operasi pengeboran migas kerap dilakukan selama 24 jam terus menerus.  Akibatnya beberapa kendala teknis pun terjadi. Sebagai solusi, digitalisasi pengeboran dipercaya membuat drilling hazard efektif kembali.

Tito Loho, Wakil Humas Antar Lembaga APMI (Asosiasi Pemboran Migas dan Panasbumi Indonesia), mengatakan, digitalisasi pada fase pengeboran migas saat ini memang menjadi tren dan keniscayaan.  Hal ini karena digitalisasi bisa menjawab berbagai kendala-kendala. “Kendala itu seperti stuck pipe, well losses, pengerjaan sumur yang kritikal tinggi seperti underbalance drilling dan MWD (Measurement While Drilling) bisa dijawab oleh digitalisasi,” jelas dia pada energindo, di Jakarta, (14/06).

Selain itu, digitalisasi juga bisa membuat monitoring operasi sumur sehingga dapat membantu segera mencari penyelesaian masalah bila terjadi di lapangan remote oleh tim yang berada jauh lokasinya. “Kalau dulu hanya bisa bertelepeon satelit, maka sekarang semua data operasi bisa langsung dilihat real time oleh tim ahli di manapun berada. Jadi sudah tidak ada istilah remote membuat masalah, walau di offshore sekalipun,” ujar Tito.

Tito Loho, Wakil Humas Antar Lembaga APMI (Asosiasi Pemboran Migas dan Panasbumi Indonesia)

Bahkan katanya, digitalisasi pemboran migas saat ini telah meningkat menggunakan (AI) Artificial Intelligence dimana telah meningkatkan safety operation, efisiensi procurement termasuk intrepretasi data sumur migas yang demikian banyak.

Perlu Integrasi

Iwan Chandra,  menyatakan, bahwa semua  kecanggihan digitalisasi hulu migas tak akan berhasil tanpa integrasi dan kolaborasi yang baik antara semua stakeholders baik itu operator atau perusahaan migas, pemerintah dengan perturannya, dan penyedia teknologi.

Hampir senada, Moshe Rizal, Executive Director di Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (ASPERMIGAS), menyatakan, digitalisasi sektor migas jika ingin effektif harus komprehensif dan terintegrasi dengan rantai suplai dari hulu sampai ke hilir.

“Sebaiknya digitalisasi jangan setengah-setengah, lapangan per lapangan, dan implementasinya hanya per_asset. Nanti masing-masing sistemnya berbeda, tidak saling integrasi dan kompatibel satu sama lain,” katanya pada Energindo, (13/6)

Terkait hal ini, Tito Loho menjelaskan, bahwa pihaknya sudah mendukung upaya integrasi digitalisasi migas.  Salah satunya adalah mengintegrasi informasi rig secara online di situs www.apmi-online.org. Hal ini agar data-data rig-rig lebih akurat dan update online

“Jadi web kami bukan sekedar profil. Tapi berisi ratusan data akan informasi keberadaan perusahaan anggota serta keberadaan rignya,” ujar Tito.

Semua data tersebut, lanjut Tito, bisa diakses oleh SKK Migas dan perusahaan KKKS, sehingga diharapkan tidak ada lagi istilah non matching antara kebutuhan dengan ketersediaan rig. “Ini juga diharapkan bisa membantu perencanaan eksplorasi maupun eksploitasi dan mendukung program 1 juta barel SKK Migas pada tahun 2030 nanti,” pungkas Tito.

Sementara itu, Taslim Yunus mengatakan, SKK Migas saat ini sudah memiliki quick wins digitalisasi yang terintegrasi yaitu; IOC (Integrated Operation Centre). “Ini sangat membantu monitoring ekplorasi dan ekploitasi hulu migas Indonesia,” jelasnya dalam acara webinar, (28/4).

Lantas seperti apa dan bagaimana kinerja IOC itu?

(Bersambung ke bagian 3).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed