oleh

Maman Abdurrahman: EBT Adalah Energi Masa Depan

Jakarta, — Anggota DPR RI Komisi 7 dari Fraksi Partai Golkar, Maman Abdurahman, menyatakan, bahwa EBT (Energi Baru Terbarukan) adalah energi masa depan yang sedang mengalami tren global. Untuk itu, ia ingin semua pihak bisa bekerja keras mewujudkan target bauran energi sebesar 23% di tahun 2025 seperti yang dicanangkan oleh Pemerintah.

“Selain Indonesia, sebenarnya Negara-negara lain sekarang sedang berusaha berusaha menambah bauran energinya pada EBT. Jadi jangan sampai Indonesia ketinggalan akan hal ini,” katanya pada acara kunjungan kerja ke Universitas Trisakti, Jakarta (26/7).

Maman menambahkan, ketersedian sumber EBT di Indonesia sebenarnya sangat melimpah diberbagai daerah sesuai potensi dan karakteristiknya. EBT juga merupakan sumber energi bersih yang berkelanjutan sehingga bisa menekan emisi.

Jadi, lanjut dia, tak ada alasan Indonesia tak mementingkan EBT. Disamping itu, sudah sepatutnya Indonesia sejak sekarang perlahan meninggalkan sumber energi fosil yang akan usang seperti minyak bumi dan batubara dimana seiring waktu pemakaian akan habis. Ia berani mengatakan energi fosil tersebut akan “usang” agar sejak dini Indonesia sangat serius melakukan percepatan pengembangan EBT sehingga tercapai target bauran energi nasional.
Namun begitu, Maman mengakui bahwa pengembangan EBT tidak akan mudah sebab ada berbagai tantangan baik dari sisi dari infrastruktur, demand, dan harga jual listrknya. Beberapa potensi EBT pun banyak yang tersebar di daerah terpencil dengan skala yang kecil juga, padahal sistem interkoneksi masih terbatas.

Selain itu, secara sifat dan kondisi lokasi, pasokan EBT cendrung berubah-rubah atau bersifat intermittent. Ini menyebabkan ketidakstabilan pasokan listrik sehingga pembangkit EBT tidak bisa beroperasi dengan maksimal.
Untuk mengatasi semua hal itu itu, ia kembali berharap, agar berbagai masalah pengembangan EBT tidak hanya dilakukan dan diselesaikan oleh pemangku kepentingan ataupun Badan Penelitian milik Negara. Namun ini harus dibantu juga oleh elemen masyarakat termasuk dari pihak kampus.

“Memang kita punya lembaga-lembaga penelitian seperti BPPT, LIPI dan sebagainya. Tapi kampus perlu aktif memberi masukan dan mendorong pemakaian EBT. Untuk itulah saya datang melakukan kunjungan kerja kesini demi meminta masukan terkait EBT,” ujar Maman.

Terkait RUU (Rancangan Undang-Undang) EBT yang saat ini sedang digodok di DPR RI, Maman mengaku bahwa ia termasuk yang bicara sangat keras dan lantang agar RUU EBT bisa diselesaikan dalam waktu secepatnya. Tapi, ia menyatakan belum bisa menjanjikan RUU EBT tersebut akan selesai dalam tahun ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed