oleh

Mendorong Industri Energi Menerapkan ESG

Mendorong Industri Energi Menerapkan ESG

Jakarta, energindo — Seiring program Sustainable Development Goals (SDGs), industri energi saat ini ikut dituntut menerapkan investasi yang mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial dan pemerintah atau kerap disebut ESG (Environmental Social and Corporate Governance).  

Penerapan ESG diharapkan bisa membawa perusahaan energi berbasis fosil atau non fosil mentransformasi cara berbisnis, praktek circular economic yang baik dan komitmen pada low carbon economy.

Riki Frindos, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, menyatakan, bahwa pada prinsipnya masyarakat tidak pernah menolak aktivitas eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) di Indonesia. Hanya saja, mereka menuntut agar para stakeholders  bisa melakukan tata kelola yang baik sesuai dengan kapasitas SDA itu sendiri..

“Saat ini rerata prosesnya kan masih sebatas ambil dari alam kemudian proses manufacturing, produk dijual dan pada akhirnya ada limbah. Harusnya diubah input menjadi output, dan output menjadi input di circular economy,” jelasnya pada sebuah acara webinar, (24/08).

Ditambahkannya, isu perubahan iklim yang telah menjadi momok menakutkan sebenarnya dapat dijawab dengan komitmen ESG. Apalagi perusahaan energi khususnya berbasis fosil sering dituding sebagai salah satu pemicu utama perubahan iklim akibat menghasilkan emisi.

Komitmen perusahaan energi swasta nasional

Sebagai grup perusahan yang bergerak di sektor energi, MedcoEnergi adalah contoh perusahaan yang sangat berkomitmen pada ESG.

Vice President Corporate Planning & Investor Relations MedcoEnergi, Myrta Sri Utami, menjelaskan, sebagai salah satu perusahaan yang leading di Asia Tenggara, penerapan ESG tentunya sudah menjadi prioritas bagi MedcoEnergi. Hal ini karena pihaknya dan para investor menyadari pentingnya memastikan keberlanjutan dari perusahaan.

“Ya MedcoEnergi memiliki komitmen menjadi ESG. Member offboard juga sangat fokus pada ESG,” ujar Myrta dalam paparan virtual di booth MedcoEnergi di ajang IPA CONVEX 2021, Rabu (1/9).

Bahkan, lanjutnya, MedcoEnergi ingin menargetkan menjadi ESG leadership di kawasan regional. Demi mencapai hal itu, MedcoEnergi terus melakukan sinergi bisnis dari ketiga pilar grup bisnis_nya, antara lain; migas (minyak dan gas), kelistrikan dan copper mining. 

Disamping itu, portfolio management terus akan dilakukan dengan target yang jelas dengan kriteria-kriteria yang disiplin dalam eksekusinya. Sehingga penerapan-penerapan ESG diharapkan akan sesuai dengan pilar-pilar yang sudah ditetapkan MedcoEnergi.

“MedcoEnergi akan terus berkomitmen mengimplementasi ESG sesuai standar praktik terbaik di dalam industri, untuk detail programnya tersedia pada Laporan Keberlanjutan kami,” katanya.

Terkait perubahan iklim, Myrta menyatakan, bahwa pihaknya sudah mendukung penurunan emisi dengan menjadi bagian dari Carbon Disclosure Project untuk melaporkan target emisi sesuai dengan standar internasional yang berlaku.

Menjawab pertanyaan terkait kemungkinan MedcoEnergi menuju pada kriteria green investment, Myrta menyatakan, bahwa pihaknya saat ini masih akan mengkaji dulu apakah akan ke arah sana atau tidak.

Akan tetapi, ia menjabarkan, jika melihat portfolio MedcoEnergi saat ini ada sekitar 60% adalah berasal dari bisnis gas. Untuk sektor kelistrikan, MedcoEnergi tidak membuat IPP (Independent Power Producer) dengan sumber batubara.  Sedangkan untuk sektor pertambangan maka yang dilakukan adalah coper mining.

“Jadi memang sudah menuju ke arah sana (green investment),” tandas Myrta menjawab pertanyaan energindo.

Tapi apa manfaatnya perusahaan energi terapkan ESG?

ESG saat ini bukan sebagai peraturan saja tapi sudah menjelma sebagai reward and punishment,

Riki Frindos, menjelaskan, reward yang paling sederhana bagi perusahaan energi peduli ESG adalah tidak mendapatkan negatif clearing sebagai perusahaan yang tak ramah lingkungan. Jadi ketika masuk kedalam bursa,maka perusahan tersebut bisa ada dalam kategori green investment dan greenbond​. 

“Sedangkan punishment jika tidak peduli dikhawatirkan perusahaan mendapat risiko tidak diminati investor bahkan ancaman pemboikotan dan pencabutan izin bila ada pelanggaran,” kata dia.

Selain itu, ESG  juga menjadi faktor menghasilkan performance lebih baik untuk citra perusahaan sehingga membuka keuntungan yang optimal

“Kalau kita lihat dari tren pendanaan saat ini, banyak investor khususnya usia muda akan lebih mencari dan menitik beratkan pada perusahaan peduli ESG. Jadi mengelola ESG adalah rate and opportunity,” pungkas Riki.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed