oleh

NewQuest Gelar Talskshow Geothermal

Jakarta, energndo  — Pada hari Sabtu tanggal 23 Oktober 2021, PT NewQuest Geotechnology (NQ) menyelenggarakan “NQ 10 Years Anniversary Day” secara virtual dengan agenda utama NQ Special Talkshow dengan tema “Geothermal Technology Innovations: A Perspective from the Past, Present, and Future”, Launching Buku dan Software NQ, serta Pengumuman Pemenang berbagai kompetisi. Acara ini adalah puncak dari rangkaian acara “NQ 10 Years Anniversary – A Ten Years of Contributions” dan diikuti oleh lebih dari 250 peserta dari berbagai kalangan antara lain lembaga pemerintah, industri, akademisi, dan umum.

 

Dalam sambutannya, Direktur Panas Bumi, Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM, Harris Yahya, M.T. menyampaikan bahwa Indonesia mempunyai potensi geotermal sebesar 23,700 GW tersebar di 357 lokasi dan sudah dikembangkan 2,175 GW atau sekitar 9%. Pemerintah sangat serius dalam pengembangan geotermal dengan telah menetapkan target kapasitas terpasang 9,3 GW pada tahun 2035. Dalam RUPTL 2021-2030 pengembangan geotermal direncanakan sebesar 3,355 GW dari total 20,9 GW pengembangan Pembangkit EBT. Rencana penambahan ini bisa menjadi lebih besar dikarenakan adanya rencana penambahan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan “phase out” PLTU 1 GW sampai 2030.

 

Pengembangan Pembangkit EBT termasuk geotermal yang diparalelkan dengan pengurangan pemakaian energi fosil menjalankan 3 fungsi sekaligus yaitu: memperbesar porsi EBT dalam bauran energi, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca dalam rangka implementasi Paris Agreement, dan menuju “Net Zero Emission” yang merupakan konsensus global.

 

Selanjutnya Harris menyampaikan bahwa pengembangan geotermal selalu dihadapkan pada risiko bisnis, terutama pada tahap awal (eksplorasi).  Eksplorasi yang hanya membutuhkan biaya 1-2% dari total biaya proyek haruslah dilakukan secara optimal, karena sangat menentukan kesuksesan pengeboran yang biayanya berkisar 30-60% dari total biaya.

 

Data EBTKE terbaru menunjukkan, rasio keberhasilan pengeboran berkisar 33-67% dengan output 4-6 MW/sumur. Dengan tuntutan harga listrik yang lebih terjangkau, maka tahapan eksplorasi geotermal harus semakin handal dan akurat dalam pembuktian cadangan panas bumi dan kegiatan drilling juga haruslah lebih efektif dan efisien.

 

Keberadaan PT NewQuest Geotechnology yang telah menemukan lebih dari 3 GW resources di 43 WKP sangat membantu pengembangan geotermal nasional, Harris sangat mengapresiasi seluruh kontribusi NQ dalam pengembangan geotermal melalui jasa eksplorasinya, riset-riset untuk meningkatkan “drilling success ratio”, dan pengembangan SDM melalui berbagai kegiatan NQ Academy.

 

Pada kesempatan yang sama, Prijandaru Effendi, M.Eng., President dari  Indonesia Geothermal Association (INAGA), menyampaikan selamat dan berharap agar kontribusi NQ berlanjut terus sampai semua potensi geotermal Indonesia dikonversi menjadi listrik.

 

Prijandaru melanjutkan bahwa sejak beroperasinya pembangkit geothermal pertama di Indonesia yaitu PLTP Kamojang-1 tahun 1983 hingga sekarang, jumlah kapasitas terpasang adalah sebesar 2.175 MW, artinya rata-rata penambahan kapasitas PLTP nasional hanya sekitar 70 MW/tahun. Ini adalah angka pengembangan yang lambat, padahal PLTP sangat sustain, tersedia 24/7 atau availability factor yang tinggi sekali dibanding pembangkit EBT lain, sehingga berkontribusi maksimal pada penurunan emisi GRK.

“Kenapa akhir akhir ini investor kurang bergairah?”. Prijandaru menjelaskan ada masalah yang sedang dicari solusinya yaitu disparitas harga antara “expectation prices” developer berdasar keekonomian dan kemampuan beli oleh offtaker PLN. Kita tahu PLN menjual listrik di bawah harga keekonomian. Semakin kecil kapasitas PLTP yang dikembangkan maka disparitas harga semakin besar.

 

Ada 2 solusi untuk mengatasi masalah ini, pertama adalah kehadiran pemerintah berupa insentif atau subsidi dan kedua yaitu terobosan teknologi dan ini tugas pengembang. Prijandaru menutup sambutannya dengan harapan inovasi, teknologi dan terobosan-terobosan lain ini bisa di-monetize dan diusulkan ke pemerintah, sehingga geotermal bisa dikembangkan dengan harga yang lebih kompetitif.

 

Dalam sambutannya, Founder NQ, Dr. Yunus Daud menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian dan kontribusi NQ dalam dekade pertama operasionalnya, menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah mendukung selama ini. Selanjutnya Dr. Yunus Daud, mengajak semua stakeholder geotermal untuk berkarya dan mengelola geotermal yang merupakan “Special Gift from the Almighty God” dengan menggunakan teknologi dan metodologi yang proper (tepat), sehingga energi geotermal dapat terjaga tetap renewable, sustainable and environmentally friendly, serta dapat diwariskan pada generasi anak-cucu kita.

 

Di akhir sambutannya, Dr. Yunus Daud menyampaikan 3 usulan untuk perbaikan pengembangan dan pengelolaan geotermal: pertama, kolaborasi riset antara pemerintah, industri dan universitas; kedua, penyusunan, pengelolaan dan pemanfatan database geotermal; dan ketiga, penyempurnaan dan kehati-hatian dalam melaksanakan “government drilling” yang baru dimulai.

 

Acara Talk Show dilanjutkan dengan soft launching software NQ terbaru yaitu “GeoSlicer-X” berbasis Phyton, yang mampu memvisualisasikan kondisi subsurface secara optimal baik data Geosains maupun Engineering, dan juga launching dua buku NQ Special Publication: One Decade NQ – A Ten Years Contributions for the Nation dan NQ Best Practice: Magnetotelluric Technology for Geothermal Exploration.

 

Acara ditutup dengan pengumuman pemenang berbagai kompetisi: Geothermal Photo & Video Competitio

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed