oleh

Pekerja Tekankan Pentingnya Pertamina Kuasai Panasbumi Indonesia

Jakarta, energindo —Sebagai negara yang berada di kawasan ring of fire (cincin api), Indonesia memiliki banyak sumber panas bumi. Potensi ini bahkan yang tebesar yaitu sekitar 40% dari seluruh potesi di dunia. “Untuk itulah sebagai anak bangsa, kita harus mensyukurinya dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Demikian ungkap Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), Arie Gumilar, pada acara konfrensi pers belum lama ini di Jakarta.

Namun sayangnya, lanjut dia, pengembangan panasbumi Indonesia hingga kini baru memanfaatkan kurang dari 7 persen. Selain itu, terkendala banyak masalah. Dari mulai harga tarif listrik, mahalnya investasi dan permasalahan sosial lain.

“Dan terlebih, dalam peran Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), di panas bumi nasional, ia melihat belum begitu maksimal dukungan dari berbagai stakeholder. Untuk itu kita akan dorong pemerintah untuk terus dikembangkan dan dikuasai,” tegasnya.

Saat ini, jelas dia, Pertamina hanya memiliki porsi 38 persen. Sedangkan sisanya dikuasai oleh asing atau swasta domestik. Hal ini tentunya disayangkan karena potensi besar ini akan menjadi energi masa depan yang perlu didorong optimalisasi penggunaanya.

Padahal, dalam Pasal Undang-undang Dasar 1945 telah mengamanatkan bahwa semestinya cabang-cabang produksi yang penting, yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

“Sekali lagi panasbumi adalah energi masa depan bangsa. Karena itu, semestinya penguasaannya maksimal dikuasai oleh negara atau BUMN. Sekarang atau kedepannya,” tegas dia.

Lebih jauh Arie mengungkapkan, pihaknya masih tetap optimis geothermal akan jauh lebih dikembangkan bila dalam revisi UU Migas, geothermal disebutkan secara khusus sebagai salah satu target pencapaian. Karena bila hanya mengandalkan migas, tentu akan sangat terbatas. Apalagi sumber cadangannya makin sedikit dan sulit ditemukam.

Sementara itu, Bagus Bramantyo, SP PGE, mengungkapkan terdapat beberapa faktor geothermal belum maksimal pengembangannya. “Geothermal sulit berkembang karena ada penolakan dari masyarakat harga jual yang kurang ekonomis,” tandasnya, seraya menyebut angka 11 sen per kWh harga geothermal yang seharusnya bisa dijual ke PLN.

Dia juga tidak menampik bahwa investasi geothermal tidaklah murah. Satu sumur diperlukan dana hingga 8 juta USD. “Eksplorasi 1 sumur diasumsikan bisa menghasilkan 8 Megawatt,” katanya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed