oleh

Pengamat: Direksi Pertamina Diduga Lakukan Kejahatan Korporasi Soal Harga BBM

Jakarta, Energindo.co – Ada dugaan kuat telah terjadi kartel dalam menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) Umum kepada rakyat. Ironisnya, praktik tersebut diduga dilegalkan negara. Inilah konspirasi antara pemerintah dengan badan usaha Pertamina, Shell, Vivo, Total dan AKR dalam menjual harga BBM tinggi diatas peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Demikian ditegaskan oleh Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman.

Padahal harga crude dan produk kilang global harganya sangat turun. “Bahkan harga produk kilang bisa lebih murah USD 2 hingga USD 4 per barel dibandingkan harga crude. Ini anomali. Tetapi faktanya diabaikan oleh pemerintah,” kata Yusri dalam keterangan persnya, Sabtu (16/5/2020).

Berdasarkan rilis Kementerian ESDM pada 8 Mei 2020 disebutkan bahwa harga patokan ICP crude USD 20, 66 untuk April 2020. Menurut Yusri, bila minyak tersebut diolah di kilang ditambah biaya oleh kilang Pertamina yang tidak efisien sekitar USD 8 hingga USD 10 per barel, sehingga harga product dari BBM sekitar USD 30 per barel, sementara harga MOPS product gasoline 92 untuk April sekitar USD 23 per barel. “Tapi Direksi Pertamina berani berbohong terhadap angka simulasi harga BBM di depan Presiden Jokowi dalam ratas penentuan harga BBM pada 27 April 2020, dengan menggunakan Kepmen ESDM Nomor 62 K tahun 2020. Pertamina menyatakan patokan MOPS Gasoline 92 senilai USD 40 per barel,” beber Yusri. Oleh karena itu, lanjut Yusri, cukup bukti bahwa Direksi Pertamina (diduga) melakukan kejahatan korporasi sekaligus merugikan rakyat dalam menetapkan harga BBM Umum diluar kewajaran.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed