oleh

Pengamat: Ombudsman Seperti LSM Soal Alasan Harga BBM Tidak Turun

Jakarta, Energindo.co – Pernyataan Laode Ida, anggota Ombudsman mengenai 3 alasan Pertamina tidak menurunkan harga BBM mendapat respon dari berbagai kalangan. Salah satunya dari Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman. “Tidak seharusnya Ombudsman ikut berkomentar seperti LSM atas dasar pemahaman sepihak saja, yakni Pertamina, sehingga bisa menimbulkan pertanyaan Ombudsman mewakili kepentingan rakyat Indonesia atau kepentingan badan usaha Pertamina,” kata Yusri dalam keterangan persnya, Rabu (27/5/2020). Seharusnya Ombudsman sesuai fungsinya bertindak dan bersikap mewakili kepentingan umum.

Apalagi terhadap ketiga alasan yang dikemukan Pertamina, lanjut Yusri, hanya yang benar adalah kalau harga BBM diturunkan, Pertamina akan terancam kolaps, bisa terjadi lebih karena proses bisnisnya dari hulu ke hilir telah dikelola tidak efisien.

“Contohnya investasi Pertamina di hulu, seperti membeli PI (Participacing interest) beberapa blok migas di luar negeri penuh dengan dugaan mark up. Bahkan ada blok yang telah dibeli, namun belum setetes pun minyak pun bisa dinikmati Pertamina sampai saat ini. Padahal sejak 2016 hingga saat ini Pertamina telah mengeluarkan uang sekitar Euro 1 miliar untuk akuisisi dan capex serta opex,” ungkap Yusri. Begitu juga, lanjut Yusri, pembelian PI dari Conoco Philips blok migas di Aljazair yang diduga ada mark up cukup kental.Termasuk Pi di perusahaan Murphy Malaysia.

Selain itu, kata Yusri, ternyata rerata biaya pokok produksi semua sumur minyak Pertamina berkisar sekitar USD 26 per barel, sehingga ketika harga minyak dunia sdh berada dibawah USD 30 per barel, tentu akan mengancam kondisi keuangan Pertamina secara keseluruhan, sehingga kalau harga minyak murah itu berlangsung lama, maka Pertamina akan berpontensi kolaps adalah sebuah keniscayaan.

Hal tersebut diperparah oleh kinerja kilang Pertamina yang sudah tua dan efisien, sehingga biaya pokok produksi BBM nya menjadi mahal.

“Kemudian, ternyata sampai proses pembelian minyak mentah, BBM dan LPG oleh ISC Pertamina belum transparan juga, sehingga masih membuka lubang adanya praktik kongkalikong, pada dasarnya tak seindah yang diucapkan oleh direksinya dan komisaris utamanya Ahok di media,” ujar Yusri. Jadi, makin sempurnalah harga dasar produk BBM Pertamina menjadi mahal telah disumbang oleh berbagai proses dari hulu sampai ke hilirnya yang tidak efisien.

Seperti diketahui, anggota Ombudsman RI Laode Ida mengungkapkan alasan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tak kunjung turun di saat harga minyak dunia alami penurunan serta merebaknya pandemi COVID-19.

Laode mengatakan hal itu diketahui dari keterangan direksi PT Pertamina. “Setidaknya yang saya tangkap dari penjelasan Pertamina, ada tiga alasan pokok mengapa harga BBM tidak turun,” ujar Laode dalam rilis di Jakarta, Selasa, 26 Mei 2020.

Pertama, harga pokok BBM yang dijual di Indonesia harga adalah sebelum turunnya harga BBM dunia. Jadi kalau dijual dengan harga murah, sudah pasti Pertamina akan mengalami kerugian besar. Sebagai BUMN, niscaya hal itu tidak mungkin dilakukan.

Kedua, harga BBM dunia terus berfluktuasi (naik-turun). Pada hari dimana direksi PT Pertamina memberikan penjelasan secara virtual pada ombudsman, misalnya, harga BBM dunia menanjak naik di atas angka tiga puluhan dolar AS per barel.

Ketiga, jika harga BBM diturunkan dan terjadi kerugian besar di pihak PT Pertamina, maka akan terjadi pengurangan tenaga kerja atau Pemutusan Hubungan Kerja.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed