oleh

Pentingnya Keberlanjutan Untuk Mengatasi Perubahan Iklim

Pentingnya Keberlanjutan Untuk Mengatasi Perubahan Iklim

Jakarta, energindo —  Perubahan iklim sudah mengkhawatirkan masyarakat global. Bahkan kondisi perubahan iklim global telah diberi status “kode merah kemanusian” (code red for humanity)

Dalam laporan terbaru Panel Antarnegara untuk Perubahan Iklim (IPCC), memprediksi, dampak perubahan iklim telah membuat bumi mengalami kenaikan suhu rata-rata yang melampaui batas aman lebih cepat dari yang diperkirakan.

Sementara dalam studi berjudul “Perubahan Iklim Semakin Nyata, Demikian juga dengan Ketidakadilan Iklim”, yang ditulis Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, menyatakan, bahwa sejumlah bukti kunci menegaskan perubahan iklim itu nyata dan masih terus berlangsung.

Bukti pertama,  adalah kenaikan muka air laut dunia juga semakin tinggi dibuktikan dengan lapisan es di sejumlah bagian Greenland meleleh dan lapisan es di Arctic juga mengalami pengurangan massa dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir

Kedua adalah gejala ocean acidification yaitu menurunnya kadar pH air laut karena meningkatnya jumlah karbon dioksida yang larut dalam air laut meningkatnya temperatur permukaan. Walaupun demikian dampak dari gejala ocean acidification terhadap ekosistem laut masih belum sepenuhnya dimengerti dan masih terus dipelajari hingga kini.

“Ketiga adalah kenaikan konsentrasi karbon-dioksida di atmosfer akan mengurangi efisiensi dari penyerap karbon alami (natural carbon sinks), kata pria yang menjabat sebagai Ketua AESI (Asosiasi Energi Surya Indonesia) ini

Riki Frindos, Executive Director KEHATI Foundation, menambahkan, tanda-tanda perubahan iklim di antaranya memang seperti bencana banjir, naiknya permukaan laut, gas rumah kaca akibat carbon.

Di antara faktor penyebabnya adalah eksploitasi sumber daya alam (SDA) fosil tanpa perhatikan faktor keberlanjutan dan juga penanganan sampah dan polusi yang tidak bagus,” ungkap Riki di sebuah acara webinar Senin, 9 Agustus 2021.

Linda Rosalina, Juru Kampanye Transformasi untuk Keadilan (TuK) INDONESIA, menyatakan, dampak kerugian krisis iklim akibat bencana dikhawatirkan tidak terhindari. Hal ini juga mengancam kehidupan dan mata pencaharian jutaan orang

“Di antara penyebabnya adalah ekstraksi bahan bakar fosil dan infrastruktur,” kata dia mengutip keterangan pers yang diterima energindo. (24/08).

Perlu keberlanjutan

Sebagai solusi, Riki Frindos, menyatakan perlunya aktifitas ekonomi yang mensyaratkan memenuhi kebutuhan manusia tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa yang akan datang termasuk menyebabkan perubahan iklim.

Aktifitas yang didengungkan sebagai “keberlanjutan” ini, katanya, harus menjadi tuntutan pokok dalam berbisnis dan menuntut transformasi cara hidup ke arah yang berkelanjutan demi low carbon economy.

“Semua pihak baik itu sebagai consumer, pelaku bisnis, investor, circular economy harus terlibat jika ingin masalah perubahan iklim ini teratasi,” katanya.

Caranya, lanjut Riki, dengan merubah input menjadi output dan output menjadi input di circular economy.  Atau dengan kata lain, merubah aktifitas yang masih sebatas ambil dari alam kemudian proses manufacturing, produk dijual dan pada akhirnya limbah atau sampah.

Dari sisi lain Linda mengusulkan, bank-bank besar bisa bertransformasi dari pembiayaan konvensional ke pembiayaan berkelanjutan. Sebab saat ini, kata dia, bank-bank sudah tidak bisa lagi menghindari tanggung jawab atas ketidak hati-hatian pembiayaan mereka.

“Kita perlu peran progresif dunia perbankan sebagai pemberi dana perusahaan ekstraktif dan perusahaan agribisnis yang berisiko terhadap hutan agar segera menyelaraskan kebijakan pendanaannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) dan Perjanjian Iklim Paris,” pungkas Linda. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed