oleh

Pentingnya Peran Perusahaan Energi Ikut Mengatasi Perubahan Iklim

 

Jakarta, energindo —  Perubahan iklim sudah mengkhawatirkan masyarakat global. Bahkan kondisi perubahan iklim global telah diberi status “kode merah kemanusian” (code red for humanity), dimana dampaknya telah membuat bumi mengalami kenaikan suhu rata-rata yang melampaui batas aman lebih cepat dari yang diperkirakan.

Riki Frindos, Executive Director KEHATI Foundation, menambahkan, tanda-tanda perubahan iklim di antaranya memang seperti bencana banjir, naiknya permukaan laut, gas rumah kaca akibat carbon.

Di antara faktor penyebabnya adalah eksploitasi sumber daya alam (SDA) fosil tanpa perhatikan faktor keberlanjutan dan juga penanganan sampah dan polusi yang tidak bagus,” ungkap Riki di sebuah acara webinar Senin, 9 Agustus 2021.

Sebagai solusi, Riki Frindos, menyatakan perlunya aktifitas ekonomi yang mensyaratkan memenuhi kebutuhan manusia tanpa mengorbankan kebutuhan generasi masa yang akan datang termasuk menyebabkan perubahan iklim.

Aktifitas yang didengungkan sebagai “keberlanjutan” ini, katanya, harus menjadi tuntutan pokok dalam berbisnis dan menuntut transformasi cara hidup ke arah yang berkelanjutan dengan mengurangi emisi. “Semua pihak baik itu sebagai consumer, pelaku bisnis, investor, circular economy harus terlibat jika ingin masalah perubahan iklim ini teratasi,” katanya.

Butuh dukungan perusahaan energi

Bersama kemitraan global, di sektor energi, Pemerintah menargetkan pada tahun 2030 penurunan emisi sebesar 29%. Ambisinya, pengurangan emisi ditargetkan 314 juta ton setara CO2 (tCO2e), dimana 183 juta ton atau lebih dari 50% di antaranya merupakan target sektor Energi Baru Terbarukan (EBT).

Salah satu perusahaan energi nasional yang berkomitmen mengurangi emisi hingga Net Zero dengan menargetkan pengurangan Karbon Dioksida (CO2) hingga 81.4 juta ton pada tahun 2060 adalah PT Pertamina (Persero).

“Untuk dapat memberikan hasil yang signifikan dalam memitigasi perubahan iklim, maka dengan pola bisnis seperti saat ini, sektor Migas secara global harus mengurangi emisi setidaknya 3,5 gigaton setara karbon dioksida (GtCO2e) per tahun pada tahun 2050,” ungkap Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di Glasgow, Skotlandia (2/11).

Bahkan, kata Nicke, jika permintaan energi migas masih seperti kondisi normal, maka sektor Migas dapat mengurangi sebagian besar emisinya, dengan biaya lebih rendah dari rata-rata US$ 50 per ton setara karbon dioksida. Hal ini dapat dilakukan melalui intervensi pada kegiatan yang paling menghemat biaya. Perubahan dan penyesuaian proses bisnis akan membantu perusahaan mengurangi konsumsi energi dan mendukung pengurangan emisi.

Selain itu, lanjut Nicke, Pertamina memiliki beberapa program yang merupakan Program Environmental, Social, & Governance (ESG) yang sebagian besar arahnya adalah dekarbonisasi. “Pertamina juga memiliki inisiatif yang sangat rinci terkait dengan program SDGs. Ini merupakan target yang sangat ambisius. Dengan dari seluruh inisiatif, program dan target kami berharap Pertamina sebagai perusahaan energi di Indonesia dapat berkontribusi lebih banyak dalam perubahan iklim yang dapat mengurangi emisi karbon di dunia,” tandas Nicke.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed