oleh

Pertamina Perusahaan Mendunia, Tapi Takut Turunkan Harga BBM

Jakarta, Energindo.co – Konsumsi BBM di seluruh dunia turun. Bahkan ada yang lebih parah dari Indonesia, namun semua negara di dunia tetap menurunkan harga BBM-nya. Contoh nyata yang paling dekat, Malaysia yang menerapkan lock down saja, setiap minggu Petronas tetap menyesuaikan harga BBM-nya. Faktanya, Petronas tidak bangkrut dan tidak ada PHK sampai hari ini. Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI)
Yusri Usman.

“Mengapa Pertamina takut jadi bangkrut kalau menurunkan harga BBM-nya? Pertamina berhasil menciptakan hatrick, selama 3 bulan sejak April, Mei hingga Juni belum menurukan harga sepeser pun,” kata Yusri dalam keterangan persnya, Selasa (16/6/2020). Berarti Pertamina adalah perusahaan yang sangat tidak efisien dari hulu hingga hilirnya. Begitu rentan dengan harga BBM sesuai harga pasar minyak dunia.

“Ternyata Ahok dipasang sebagai Komisaris Utama tidak mampu berbuat apa-apa juga. Laporan keuangan Pertamina tahun 2019 sampai dengan RUPS pada 12 Juni 2020 tidak mampu disajikan Pertamina kepada publik,” terangnya.

Menurut Yusri, bila laporan keuangannya saja tidak bisa disajikan, parameter apa yang digunakan Menteri BUMN Erick Tohir yang menyatakan direksi dan komisaris Pertamina KPI (Key Performance indek) baik? Bukankah ini Key Political Indek?

“Faktanya setelah RUPS 12 Juni 2020, di dunia dengan konsep holding, hanya Pertamina holding bisa menempatkan anggota komisaris lebih banyak dari anggota direksinya. Luar biasa Erick Tohir yang dikenal mengatakan BUMN itu bukan usaha milik nenek lo,” ujar Yusri. Padahal sebagai negara net importir minyak, harga minyak dunia murah merupakan berkah bagi rakyatnya. Lantas, kenapa rakyat tidak bisa menikmatinya.

Padahal menurut Peraturan Menteri Keuangan nomor 23/PMK/01/2007 bersama Peraturan Menteri BUMN nomor PER-04/MBU/2007, bahwa semua BUMN wajib menyerahkan laporan keuanganya paling lambat 15 Febuari setiap tahunnya ke Kementerian BUMN.

Selain itu, lanjut Yusri, jurus Abunawas untuk tidak menurunkan harga BBM, yaitu program iming-iming cashback dengan menggunakan aplikasi My Pertamina ternyata banyak gagalnya digunakan konsumen di SPBU, karena sistem My Pertamina tidak bekerja efektif dari sering down, sehingga pembayaran dilakukan oleh konsumen dengan cash.

“Anehnya lagi, program itu bertentangan dengan SOP di SPBU untuk tidak menggunakan HP selagi mengisi BBM, bukankah ini program konyol?,” ujar Yusri. Padahal sebagai negara net importir minyak, harga minyak dunia murah merupakan berkah bagi rakyatnya.

“Kalau mengikut logika pejabat KESDM, BUMN dan Pertamina yang menyatakan Pertamina akan bangkrut kalau menurunkan harga BBM-nya, maka sama saja itu mengakui bahwa Jokowi gagal memenuhi janji kampanye 2014 akan membesarkan Pertamina untuk bisa mengalahkan Petronas,” tegas Yusri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed