oleh

PLTH Hasil Inisiasi Mahasiswa UI yang Andil Menerangi Kampung Nelayan di Bekasi

Jakarta, energindo.co—“Jika ke Kampung Bungin di Muara Gembong, Bekasi, maka kita bisa melihat sebuah kawasan terintegrasi bernama Bungin Techno Park. Di area ini, terdapat turbin angin skala kecil dan solar PV (Photovoltaic) untuk meilistriki warga kampung nelayan. Inisiator pembangunannya adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Tim kincir angin UI dimana merupakan salah satu tim riset Fakultas Teknik UI yang bergerak di bidang energi sejak tahun 2014,”  jelas Profesor Adi Surjosatyo, Guru Besar Departemen Teknik Mesin UI, kepada Energindo, belum lama ini, di Jakarta.

Adi menjelaskan, alasan dipilihnya Kampung Bungin sebagai lokasi pembangkit karena hasil survei menunjukkan potensi angin di daerah pesisir itu kecepatannya mencapai 2,5-3,5 m/s.  Selain itu, dari kestabilan hembusan anginnya juga lebih mumpuni dibandingkan dengan kawasan lain disekitarnya. Apalagi karena langsung berada dibibir pantai menjadikan tiupan tidak ada penghalang apapun. Dari berbagai hasil positif di lokasi tersebut, tim akhirnya yakin untuk menancapkan menara kincir yang satu buahnya seharga Rp50 juta itu.

Ditambah lagi, jika siang hari maka sinar mataharinya pun sangat terik sehingga cocok untuk disandingkan dengan PV. Alhasil mini green energy tersebut bisa dikategorikan PLTH (Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid). Sebuah konsep yang sedang tren dikalangan pelaku EBT (Energi Baru Terbarukan) saat ini.

“Disana kita sudah memasang tiga kincir angin yang bisa menghasilkan total kapasitas 1500 Watt. Sedangkan dari PV bisa menghasilkan total 1800 Watt. Kita merasa perlu melengkapi kedua tenaga listrik itu karena kita tahu ada sifat dari EBT adalah intermittent atau tidak stabilnya pasokan energi. Dengan diduet_kan maka akan mengurangi masalah itu ,” jelas Ahli dari Tropical Renewable Energy Centre UI ini.

Sebagai dampak keberadaannya, lanjut Adi, beberapa warga sekitar Kampung Bungin sudah tidak merasa khawatir jika sewaktu-waktu terjadi pemadaman listrik oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara). Para nelayan sekitar lokasi juga mendapat lampu panduan “jalan pulang” ketika ingin melabuhkan kapalnya di malam hari karena di tower turbin angin telah  dipasang lampu suar. “Singkat kata dari PLTH itu terjadilah peningkatan kemandirian energi disana,” tukasnya.

Sebenarnya, kata Adi, Bungin Techno Park tak hanya sebatas untuk pengembangan EBT saja. Kawasan itu juga  berfungsi sebagai ekowisata dilengkapi konsep-konsep terintegrasi lainnya. Ekowisata yang dimaksud adalah kawasan wisata alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan, melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat.

“Bahkan terakhir disana kami sudah melengkapi dengan dua alat yang bisa mengubah air laut menjadi air tawar yang lokasinya berada di antara kincir angin dan panel surya. Dengan adanya konsep ini, maka warga tidak lagi mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Mudah-mudahan Bungin Techno Park ini jadi sangat bermanfaat bagi warga sekitar dan semoga bisa mencerahkan bagi masyarakat kita,” tandas Adi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed