oleh

Potensi Resiko Akuisisi Blok BMG Telah Dimitigasi dalam SPA dan JOA

Jakarta, energindo– Dalam sidang kasus akuisisi Blok Basker Manta Gummy (BMG) yang menjerat Mantan Presiden Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan, sering dipertanyakan kajian-kajian resiko yang dilakukan sebelum melakukan akuisi.

Di persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (25/4/2019), Uky Mohammad Masduki, Anggota Tim Legal Hulu dan Korporat PT Pertamina (Persero), menjelaskan, bahwa sebenarnya kajian bersama konsultan hukum Australia Baker McKenzie sudah dilakukan sebelum aksi akuisisi.

Diantara yang dikaji adalah mengenai potensi risiko-resiko pasca akuisisi.  Potensi itu dikelompokkan mulai dari yang tinggi, medium, hingga rendah. Prinsip mitigasi pun dilakukan untuk melindungi Pertamina dari risiko. “Resiko-resiko sudah dipaparkan dalam rapat direksi Pertamina yang membahas rencana akuisisi Blok BMG, “ ujarnya.

Sementara dari pihak Roc Oil Company Limited (ROC, Ltd), selaku penjual Blok tersebut,  juga telah menjamin terhadap risiko-risiko itu ynang  termaktub dalam dalam pasal di SPA (Sales Purchase Agreement).

Maka dari itu, menurutnya, kegagalan Blok BMG berproduksi pasca akuisisi, dimana diduga mengakibatkan kerugian bagi Pertamina, boleh jadi karena faktor lain yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Mengomentari hal ini,  Karen Agustiawan, menyatakan bahwa dari kesaksian tersebut akhirnya terkuak bahwa temuan-temuan yang bersifat resiko sudah dijadikan bahan due diligence per tanggal 21 April 2011.

“Terbukti bahwa akuisisi ini sudah diverifikasi dan dimitgasi dalam SPA maupun JOA (Joint Operation Agreement). Jadi akuisisi ini bukan kehendak saya sendiri,” tandas Karen.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed