oleh

Reaktor Fusi Nuklir; Perkembangannya di Dunia dan Peluangnya di Indonesia

Sekitar satu bulan yang lalu, dunia energi digemparkan oleh kesuksesan seorang anak laki-laki bernama Jackson Oswalt (12) membangun reaktor nuklir energi fusi di rumahya di Memphis, Tennessee, Amerika Serikat.

Tak pelak Jackson pun didapuk mendapat gelar Guinness Book of Records sebagai pembuat reaktor fusi termuda buah hasil kerja kerasnya selama 2 tahun.

Matt Miles, Vice President Business Development, General Fusion, dalam acara PowerGen 2018, di Jakarta, menjelaskan, energi fusi telah menjadi  salah satu yang tren.

“Faktanya energi terbarukan ini sumbernya sangat bersih, mudah, murah. Dan kami sebagai selaku pemangku kepentingan akan terus mengembangkannya,” kata Matt Miles, kepada Energindo, ditulis kembali (14/11).

Ditambahkannya, energi fusi memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan energi fosil. Misalnya, kata dia, dengan satu liter bahan bakar fusi yang diolah dari air bisa setara dengan 55.000 barel minyak tanah, yang proses pembakarannya dapat menghasilkan 23.500 ton CO2.

“Kedua sumber energi itu setara untuk menerangi 17.000 rumah di Jakarta dalam setahun. Jadi kita bisa pilih sumber energi mana yang lebih baik,” tegas Matt Miles.

Keunggulan lain, jika dibandingkan pembangkit EBT (Energi Baru Terbarukan) lainnya, maka pembangkit fusi tidak memerlukan area luas untuk menghasilkan listrik yang besar.

“Bahkan pembangkitnya pun bisa dibuat berdekatan dengan lokasi demand listrik sehingga tak memerlukan jaringan kabel listrik yang sangat panjang. Dan tidak ada masalah intermittent seperti umumnya di EBT,” jelasnya.

Lalu jika dibandingkan reaktor nuklir konvensional, reaktor fusi terbukti lebih aman karena tidak ada reaksi rantai bahan bakar. Hal ini pun bisa meminimalisasi kekhawatiran terjadinya berbagai risiko seperti yang pernah terjadi di reaktor nuklir konvensional.

Ditambah lagi, reaktor fusi tidak menghasilkan limbahzat radioaktif yang sangat berbahaya seperti dari reaktor nuklir konvensional, yang mana penanganannya sangat khusus dan merepotkan.

Reaktor fusi juga bebas dari isu senjata nuklir sehingga pengembangannya lebih terbuka dan bebas bagi pemeritah Negara manapun. “Dan yang pasti Reaktor fusi juga lebih ramah lingkungan karena tidak ada emisi karbon dilepas ke udara dan memiliki keberkelanjutan yang sangat baik karena pasokan bahan bakarnya melimpah,” tegas Miles.

Disisi lain, ia menjelaskan bahwa secara teknis ada empat tahap dalam proses umum agar reaksi fusi bisa menjadi listrik “Pertama, deuterium dan tritium dipanaskan pada suhu 100 juta derajat celcius sambil diputar di reaktor sejenis tokamak dengan kecepatan maksimal. Tokamak adalah sejenis mesin yang memproduksi medan magnet berbentuk torus untuk mengurung plasma,” ujarnya.

Setelah itu, proses kedua adalah dengan membuat atom saling bertumbuk dan berfusi. Setelah proses tersebut, maka yang ketiga, atom menghasilkan helium dan neutron yang berisi energi dalam jumlah besar.  “Dan terakhir energi yang mengandung helium dan netron ini siap digunakan menjadi listrik,” imbuhnya.

Dijelaskannya, General Fusion  telah membuat berbagai desain sistem seperti; plasma injector system, compression system dengan 14 piston, dan fusion process stability. GF pun sedang mempersiapkan reaktor pembangkit listrik fusi yang akan menjadi fasilitas terlengkap dimana akan ada mesin fusi baru bernama Magnetic Target Fusion (MTF). Mesin ini berbentuk bola baja sepanjang tiga meter yang dikeliling ratusan piston.

Bagaimana jika diterapkan di Indonesia?

Pengamat Energi Terbarukan, Ifnaldi Sikumbang, menyatakan, bahwa reaktor fusi bisa menjadi salah satu alternatif menciptakan listrik dari energi nuklir yang lebih bersih dan aman.

“Memang ini yang unconventional. Tapi saya pikir ini bagus karena lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan yang conventional,” ujarnya kepada Energindo (14/11).

Alasannya, lanjut dia, karena ada beberapa pihak yang sangat mengkhawatirkan dari dibangunnya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) skala besar tapi masih berbahan dasar uranium atau konvensional.

“Mungkin masih ada yang teringat bencana seperti di Chrenobyl, Rusia.Padahal itu human eror. Nah kalau reaktor fusi ini kan menggunakan bahan baku air berat atau deuterium. Sepertinya lebih aman. Dan kalau nantinya memang proven lebih bagus. Apalagi Indonesia ini berada di ring of fire,” ujarnya.

Tapi jauh sebelum diwacanakan, ia menyarankan agar berbagai pihak terkait nuklir seperti BATAN, Kemenristek, Kementrian ESDM dan sebagainya, melakukan riset yang pasti dulu terkait teknologi fusi ini. “Jadi dibuat risetnya terlebih dahulu. Biar ketahuan berapa estimasi biayanya,” tukas Ifnaldi.

Disisi lain, ia melihat faktanya dunia saat ini sedang mengalami transisi energi dimana negara-negara meninggalkan energi fosil dan nuklir dan menggantinya dengan energi terbarukan, sedangkan Negara yang belum memakai nuklir logikanya tentu tidak memulai memakai nuklir.

Tapi uniknya untuk Indonesia, kata dia, nuklir justru seperti mendapat “peluang”. Ini disebabkan dalam mengejar porsi EBT dalam bauran energi nasional sekarang masih sulit dan jauh dari target yang ditetapkan dalam KEN (Kebijakan Energi Nasional).

“Nah kalau begitu bisa jadi nuklir yang tadinya sebagai opsi terakhir akhirnya kembali dipertimbangkam kembali untuk menutupi target bauran EBT yang masih jauh,” pungkas Ifnaldi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed