oleh

RPM Merah-Putih Siap Diproduksi Massal

-Nasional-33 views

Kemampuan anak bangsa untuk memproduksi dan mengembangkan teknologi Radiation Portal Monitor (RPM) tidak diragukan lagi. Pasalnya, saat ini telah hadir prototype RPM Merah-Putih yang telah siap diproduksi massal setelah melalui sejumlah berbagai pengujian.

Menurut Deputi Bidang Pendayagunaan Teknologi Nuklir, BATAN, Hendig Winarno, selama ini RPM yang dipasang di wilayah Indonesia merupakan produk negara lain. “Karena produk negara lain maka jika terjadi kerusakan pada RPM tersebut akan mengalami kesulitan. Untuk itulah perlu adanya inovasi dari anak bangsa untuk membuat RPM dengan kemampuan sendiri,” kata Hendig dalam acara penyerahan hasil kegiatan Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) berupa seperangkat RPM kepada Kemenristekdikti di Kawasan Nuklir Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (13/12). RPM yang diserahkan ini nantinya akan dilakukan pengujian di lingkungan yang sesungguhnya.

RPM yang diserahkan sebanyak satu unit, yang dilakukan oleh Konsorsium pengembang RPM-PPTI kepada penyadang dana yakni Kemenristekdikti yang selajutnya diserahkan kepada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), dan kemudian diserahkan ke pihak BATAN untuk dilakukan uji-terap dilingkungan yang sesungguhnya dan dibandingkan dengan RPM buatan luar negeri yang telah terpasang sebelumnya.

Pengembangan RPM ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI yang tertuang dalam surat Sekretariat Kabinet RI tanggal 4 April 2016 perihal pemasangan RPM dan Radiological Data Monitoring Systems (RDMS).

RPM merupakan seperangkat alat yang dilengkapi dengan sensor yang mampu mendeteksi adanya zat radioaktif, sedangkan RDMS difungsikan untuk mendeteksi dan mengukur paparan radiasi lingkungan. RPM sangat diperlukan untuk dipasang di seluruh pelabuhan dan bandar udara interasional serta pos lintas batas negara guna mencegah penyelewengan penggunaan zat radioaktif dan bahan nuklir oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sedang Hendriyanto Hadi Tjahyono, Sekretaris Utama Bapeten, mengutarakan bahwa RPM menjadi program prioritas nasional. “Kami dapat proyek kegiatan untuk keamanan nuklir nasional. Kita sudah pasang 6 RPM padahal kita mempunyai ratusan pelabuhan,” katanya. Salah satu RPM ditaruh di Tanjung Priok, Jakarta. Selain Tanjung Priok, ada di Batam, Bitung, Makassar, Belawan dan Semarang.

Dia melanjutkan, “Ternyata saya ditertawakan karena masang satu RPM. Padahal gate exit dan intrancenya ada beberapa. Kalau cuma satu ya gak ada apa-apanya,” cetus Hendriyanto. Belum lagi pelabuhan-pelabuhan lain di Tanah Air.

Dari kondisi ini nampak bahwa tingkat kebutuhan RPM sangat mendesak. Isu keamanan nuklir sangat booming. Menurutnya, Indonesia sangat rawan karena luasnya jalur lautnya sehingga mudah terjadi illegal trafficking. Karena itu sangat diwanti-wanti untuk memasang RPM.

Sementara itu, Muhammad Dimyati, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti menyatakan, “Seharusnya kita tidak Londo minded lagi. Tidak selalu menganggap produk luar negeri selalu lebih baik. Kita harus menumbuhkan semangat bahwa produk kita produk yang lebih baik”.

Paling tidak, katanya, meyakinkan diri untuk memanfaatkan produk-produk peneliti dalam negeri. “RPM akan jadi test case bukan hanya pada Bapeten tetapi juga bagi pihak Kemenpolhukam dan lembaga-lembaga lainnya. Maukah merubah mindset bahwa produk dalam negeri itu produk yang sudah saatnya kita gunakan dan sudah seharusnya mereplace produk-produk dari luar,” tandasnya.

Dia mengutarakan, “Saya punya keyakinan kalau kita bersedia dan mau merubah mindset seperti itu, kita cepat bisa bersaing dengan negara-negara maju. Kita belajar dari India dan China”. Mereka dengan tekad dan semangatnya mereka cinta pada produk dalam negeri. Akhirnya mereka maju dan berlari cepat.

Pengembangan RPM ini melibatkan beberapa institusi yakni BATAN, Bapeten, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan PT. Len Bandung yang tergabung dalam sebuah konsorsium. Keempat institusi tersebut mempunyai tugas masing-masing, diantaranya BATAN bertugas mengembangkan sistem deteksi nuklir, Bapeten memberikan dukungan regulasi dan pendanaan, UGM bertugas mengembangkan perangkat lunak pengendali sistem dan PT Len mengembangkan transmisi data antar perangkat dan data server yang aman dari berbagai ancaman. Setelah RPM ini diserahkan, akan terus dilakukan penyempurnaan sebelum diproduksi secara massal.

Pengerjaan RPM ini menelan biaya sebesar Rp 4 milyar yang berasal dari program Insinas PPTI yang sudah berlansung pada tahun 2017 – 2018. Dengan selesainya RPM ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu membuat perangkat portal radioaktif secara mandiri dan tidak tergantung pada produk negara lain. (Sof)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed