oleh

Saatnya Indonesia Move ke Inovasi

-Nasional-36 views

Selama ini basis sumber pembangunan Indonesia berasal dari Sumber Daya Alam (SDA). Saat ini seluruh data SDA sudah susut. Minyak susut. Batubara juga susut. Bila susut, maka basis pembangunan negeri ini akan berbasis apa?

Menurut Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi, pihaknya telah melakukan kajian yang mendalam selama 2 tahun terakhir ini. “Kemudian muncullah gagasan bahwa kita harus move ke inovasi,” kata Bambang pada sejumlah media disela-sela acara Sidang Paripurna II DRN dan Seminar Nasional bertajuk ‘Pembangunan Berbasis Inovasi di Era Industri 4.0,’ Selasa (4/12/2018) di Jakarta. Sebagai ilustrasi, negara Korea telah berhasil melakukan inovasi dibidang alat komunikasi, yaitu handphone.

Menurut Bambang, pada tahun 90-an ilmuwan di negara tersebut telah menemukan teknologi android. Padahal alat komunikasi handhpone yang berkembang saat itu hanya terbatas sebagai alat komunikasi saja dengan beragam merek.

“Peran pemerintah di Korea sangat aktif dengan mengalokasikan anggaran untuk bidang inovasi dalam jangka waktu panjang. Melalui Dewan Riset Inovasi, anggaran tersebut diberikan,” kata Bambang. Selain itu, ada Undang-undang yang mendukung inovasi di Korea.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Menurut penuturan Bambang, saat ini sedang ada revisi UU No. 18 Tahun 2002. Pihak DRN pun menyumbangkan beberapa pemikiran. Salah satunya adalah UU Sisnas Iptek harus ditambah dengan kata ‘inovasi’ sehingga menjadi Sisnas Iptekin. Isinya adalah harus dibangun Dewan Riset Inovasi Nasional dan Dewan Riset Inovasi Daerah. Selain itu juga harus ditegaskan bahwa inovasi adalah pemacu kemajuan selain ilmu pengetahuan.

Namun sayangnya, kata inovasi tersebut ditarik. “Saya kemudian lapor ke Pak Luhut (Menko Kemaritiman) karena program inovasi sejalan dengan visi beliau,” kata Bambang.

Lebih jauh Bambang mengutarakan inovasi dengan memanfaatkan resource yang telah ada di bumi Nusantara akan memberi nilai tambah. Sebut saja misalnya, beberapa ilmuwan yang mengembangkan rumput laut menjadi teh. Atau pengembangan buah pace/mengkudu menjadi jus yang dapat memberi nilai ekonomi jauh lebih besar dibandingkan dengan buah mengkudu yang belum mendapat sentuhan inovasi. (Sof)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed