oleh

Sambil Berderai Air Mata, Karen Bacakan Pledoi

 

Jakarta, energindo– Pada pembelaan atau Pledoi dari tuntutan Jaksa untuk memvonis 15 tahun dan denda Rp284 miliar atas kasus yang menimpa mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan. Ia menceritakan perjalanan karirnya hingga keputusanya dalam mengakuisisi blok BMG.

Karen menuturkan, ia lulus dari ITB pada tahun 1983, kemudian memulai karir di sebuah perusahaan Amerika pada tahun 1984 di Mobil Oil Indonesia (MOI) sebagai Geophysicist. Pada tahun 1988-1991 ia mendapat tugas kerja (working assignment) ke Mobil Oil Dallas, sekaligus mendampingi suaminya yang sedang tugas belajar Program Doctoral (S3) di Dallas Texas, Amerika.

Disana ia bekerja di MOI selama 13 tahun hingga 1997, namun  terus berkarir di berbagai perusahaan migas swasta asing (Landmark, Halliburton dll). Kemudian pada tahun 2004 ia memilih untuk menjalankan usaha sendiri dengan harapan memiliki banyak waktu luang untuk anak-anak dan keluarga saya.

“Keputusan ini saya buat, karena saya yakin bahwa menjadi seorang ibu dari anak-anak saya merupakan pekerjaan yang mulia, sedangkan karir di dunia Migas hanya merupakan pekerjaan sampingan yang saya lakukan untuk menunjang keluarga,” katanya.

Dengan keyakinan tersebut, ia mengaku tak pernah terbesit sedikitpun dalam benaknya untuk menjadi Pejabat Negara atau Direktur Utama PT Pertamina (Persero) yang merupakan BUMN terbesar di Indonesia.

Ternyata, ungkap Karen, Allah SWT berkehendak lain, pada bulan Desember 2006 ia  diminta untuk menjadi Staf Ahli Bidang Hulu Direktur Utama PT Pertamina (Persero) yang pada saat itu dijabat oleh Bapak Arie Soemarno.

Setelah menjadi Staf Ahli sekitar setahun, ia diminta mengikuti Fit & Proper Test untuk posisi Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) dan dinyatakan lulus, dandilantik pada tanggal 5 Maret 2008. Belum genap setahun, kemudian ia diminta untuk mengikuti proses seleksi yang sama untuk jabatan Dirut PT Pertamina (Persero). Ia pun lulus dari seleksi tersebut dan dilantik menjadi Dirut PT Pertamina (Persero) pada tanggal 5 Februari 2009.

“Mungkin banyak yang tidak percaya bahwa pada awalnya saya  menolak jabatan Dirut PT Pertamina tersebut, karena saya masih berkeyakinan bahwa pekerjaan utama saya adalah menjadi seorang ibu dan isteri. Saya sadar jika saya menjadi Dirut dari BUMN terbesar di Indonesia tersebut, waktu saya sebagai ibu dan isteri akan menjadi sangat terbatas,” katanya.

Kendati demikian, ia  memutuskan untuk menerima jabatan tersebut dengan pertimbangan  ingin memajukan BUMN ini dan membawanya Go international. Harapannya, jika Pertamina maju, maka hasilnya pun dapatdinikmati oleh generasi saat itu dan generasi di masa-masa berikutnya, termasuk generasi anak-anak dan cucu-cucu. Keinginan tersebut akhirnya digunakan sebagai dasar strategi dalam memimpin Pertamina yaitu: “Aggressive Upstream and Profitable Downstream.”

“Saya hanya ingin mengingatkan para hadirin yang hadir hari ini di sini dan siapapun yang kebetulan membaca Pledoi saya, bahwa nanti pada saat Mantadan Chimaera mulai berproduksi dan dipublikasikan, mohon diingat bahwa padamhari ini tanggal 29 Mei 2019, ada “seseorang” yang telah berupaya keras untuk mengibarkan SANG SAKA MERAH PUTIH di Gippsland, namun tak berdaya karena dinyatakan bersalah oleh Jaksa Penuntut Umum. Orang tersebut sangat berharap, nanti pada saat sudah berproduksi ada seberkas keadilan bagi dirinya dengan diberi kesempatan untuk membuka kembali kasus ini,” jelasnya sambil menangis.

Faktanya, lanjut Karen, ia kini Akuisisi PI di Blok BMG malah dituduh merugikan keuangan negara. Ia dituduh melakukan tindak pidana korupsi, dan bahkan Timya telah di-vonis dengan hukuman yang sangat tidak masuk akal dan tidak sesuai dengan fakta-fakta persidangan. Padahal akuisisi ini semata-mata dilakukan dalam rangka ekspansi guna mengembangkan perusahaan menjadi lebih besar,agar dikenal sebagai perusahaan yang mumpuni secara internasional.

Akuisisi ini, tegasnya,  tidak dimaksudkan untuk memperkaya diri sendiri atau pihak/perusahaan lain, mengingat Karen Agustiawan sebagai profesional tidak pernah kenal, apalagi bersepakat dengan para pihak pemilik BMG. Selain itu, pembelian PI atauakuisisi adalah sesuatu hal yang biasa dalam dunia bisnis hulu migas.

Sambil berderai air mata ia kembali menyakinkan bahwa semua hadirin dan semua pihak, termasuk bapak-bapak JPU jikajujur terhadap hati nuraninya, akan sependapat bahwa sungguh tidak masuk akal jika ia sengaja melanggar ketentuan untuk menguntungkan pihak/korporasi lain, dan merugikan perusahaan yang selama ini saya telah bekerja keras menumbuh-kembangkannya menggunakan segala kemampuan dan pengalaman yang ia miliki, sekalipun harus berkorban meninggalkan keluarga sendiri.

Atas berbagai fakta persidangan yang diungkap, Karen berharap majelis hakim dapat memutuskan kasus ini sesuatu fakta yang ada. Dia meminta Hakim tidak mendasarkan putusannya pada tuntutan JPU yang terkesan mengabaikan fakta persidangan. Karen yakin keputusannya dalam melakukan akuisisi Blok BMG senilai Rp568,06 miliar pada saat itu adalah keputusan yang berdasarkan landasan yang kuat.

“Saya sangat berharap Hakim dapat mengerti, mudah – mudahan majelis hakim dibukakan hati nuraninya, yang benar ya benar yang salah ya salah. Tidak usah khawatir kalau memutuskan begini akan membuat suatu anomali. Saya pikir menghukum orang yang benar itu jauh lebih kejam,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed