oleh

Sekjen DEN Bahas Target Energi Mix dan Upaya Pencapaiannya

Jakarta, energindo — Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto menjadi narasumber pada acara Kuliah Umum yang diselenggarakan oleh Tender Academy secara daring dengan tema Target Energi Mix dan Upaya Pencapaiannya.

Dalam kesempatan ini, Djoko Siswanto menegaskan bahwa Indonesia memang harus mempunyai target energi mix untuk mencapai ketahanan energi. Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh expert dengan metode pembobotan AHP, ketahanan energi nasional Indonesia berada diangka 6,57 yang artinya Indonesia memasuki tahap awal dari kategori tahan.

Ada beberapa hal yang menjadikan indeks ketahanan energi Indonesia belum masuk kategori sangat tahan. “Kita masih impor dalam bentuk komoditi minyak mentah, bahan bakar minyak jenis bensin, bahkan elpiji kita masih impor sebesar 75 sampai 80 persen”, jelasnya.

Pria lulusan Doktor dari Institut Teknologi Bandung ini menjelaskan empat variabel untuk menghitung indeks ketahanan energi nasional, yaitu ketersediaan (availability), harga (affordability), akses penyediaan (accessability), dan penerimaan masyarakat terhadap infrastruktur (acceptability).

Pria yg akrab disapa Djoksis ini menyampaikan target bauran energi baru terbarukan Indonesia pada tahun 2025 adalah 23 persen dan 31 persen pada tahun 2050 berdasarkan Kebijakan Energi Nasional dan Rencana Umum Energi Nasional. Disamping itu, komitmen nasional terhadap Paris Agreement mengenai target net zero emission pada tahun 2060 merupakan langkah untuk mendorong percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan kedepannya.

Pemerintah saat ini sedang berupaya mengimplementasikan Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) yang memiliki visi terwujudnya bauran energi nasional berdasarkan prinsip keadilan, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan guna terciptanya ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi.

Djoksis yg pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM ini menyampaikan beberapa program dalam GSEN terkait upaya pencapaian energi mix, yaitu menghentikan impor BBM (gasoline dan diesel), pengembangan EBT, menghentikan impor elpiji, optimalisasi pemanfaatan batubara, pengembangan infrastruktur gas bumi, dan infrastruktur listrik.

Upaya-upaya tersebut akan terus dimaksimalkan dalam penerapannya meskipun tantangan pasti ada. Tantangan pengembangan energi mix antara lain adalah terbatasnya kemampuan sistem jaringan penyerapan listrik, terbatasnya kemampuan teknologi dan industri dalam negeri, dan rendahnya ketertarikan perbankan berinvestasi di energi baru terbarukan karena risiko yang tinggi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed