oleh

“Kampung Kecil Indonesia” di Tokyo yang Mengobati Rasa Rindu Tanah Air

 

Tokyo, energindo.co— Kompleks SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo), di kawasan Meguro, Tokyo, kini telah menjadi salah satu tujuan  bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Negeri Sakura ataupun yang sedang berwisata. Pasalnya di kompleks ini sekarang ada fasilitas Masjid Indonesia Tokyo (MIT) yang pembangunannya diprakarsai sejak 19 tahun lalu oleh Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) Jepang

 

“Sekarang enak ada MIT. Gak perlu lagi susah-susah cari tempat Shalat Jumat. Turis muslim mancanegara juga suka Shalar Jumat kesini,” ungkap Tandang Yuliadi Dwi Putra (39), Mahasiswa Studi Program Doktoral di Departement Civil Engineering, University of Tokyo, dalam wawancara lewat telepon dari Tokyo, Selasa (25/12).

 

Dulu sebelum ada MIT, lanjut dia, biasanya ia Sholat Jumat di Masjid lain seperti Masjid Camii milik Pemerintah Turki, Masjid Assalam di Okachimachi, maupun Masjid Otsuka. Sedangkan jika mau Shalat Jumat di SRIT sendiri, masih dilakukan di Aula Balai Indonesia.

Namun begitu, sebenarnya fungsi MIT tak hanya untuk ibadah. MIT kerap dikunjungi warga Jepang baik pribadi maupun organisasi untuk bertanya tentang Islam dan Indonesia. Proses akad pernikahan Islam pun kadang dilakukan disini.  Dan sesama WNI juga suka silaturahmi disini pasca acara pengajian. “Para pejabat yang sedang berkunjung juga sering kesini.  Jadi kompleks SRIT sejak ada MIT ini jadi multifungsi dan seperti “titik pertemuan” WNI di Jepang,” tukasnya.

 

Penuh perjuangan

 

Tandang menjelaskan, masjid yang berdiri di lahan seluas 200 meter persegi dengan total kapasitas mencapai 250 orang ini, adalah masjid milik bangsa Indonesia yang pertama di Jepang.  MIT terdiri dari 3 lantai dimana untuk lantai 1 dan 2 dikhususkan bagi jemaah laki-laki sedangkan lantai dasar dikhususkan bagi jemaah wanita.

Pada lantai dasar terhubung dengan pintu ruang Pusat Kebudayaan Indonesia di Gedung SRIT.  Di lantai 1 terdapat pintu masuk utama, tempat wudhu, kamar mandi, toilet difabel, penitipan sandal atau sepatu. Ada juga mihrab untuk imam memimpin sholat dan mimbar untuk ceramah.

Dari sisi konstruksi fisik, pondasi dan rangka bangunan, MIT menggunakan beton cor tahan goncangan namun fleksibel.  Dilhatnya, untuk eksterior MIT menggunakan material yang aman jika terjadi gempa. Sedangkan fasilitas dan interior MIT tergolong sangat lengkap, aman, lux dan ramah pada difabel. Bahkan struktur bangunan ditargetkan tahan sampai berumur 200 tahun.

 

“Alhamdulillah ini sudah berdiri. Tapi kita harus tahu juga bahwa pembangunannya penuh tantangan sejak awal ide pembangunannya di tahun 1999 oleh panitia,” imbuh Tandang.

 

Tantangannya tak lain adalah soal pendanaan. Setelah enam tahun mengumpulkan dana, panitia baru berani melaksanakan proses lelang untuk konstruksi dan desain di tahun 2015. Di tengah pembangunan, panitia menghadapai masalah kenaikan biaya material bangunan. Hal ini merupakan efek dari ajang Tokyo Olympic tahun 2020 nanti, yang menjadikan material bangunan menjadi mahal. Imbasnya, panitia saat itu terancam tidak bisa membayar biaya pada kontraktor karena jumlah dananya kurang.

 

“Kabarnya waktu itu dana kurang 188 juta Yen jadinya tidak cukup menutup biaya konstruksi fisik, interior, dan jasa desain,” ungkapnya.

 

Namun, syukurlah, setelah panitia gencar melakukan upaya penggalangan dana tambahan lewat pengiriman proposal, berbagai inovasi kampanye, baik lewat website resmi, info dan status di sosial media. Berbagai pihak dari mulai WNI di Jepang atau di Indonesia, perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), sampai perusahaan swasta nasional akhirnya menjadi donator.

“Kalau dari yang saya pernah baca ada tambahan donasi lebih dari Rp 1 miliar dari crowdfunding dan transfer bank di Indonesia. Tak ketinggalan perusahaan BUMN dan perusahaan swasta nasional. Diantara yang paling besar adalah PT Pertamina yang menyumbang Rp 1 miliar dan PT Astra International yang menyumbang Rp 5 miliar.,”  tuturnya.

 

Kabar baik berikutnya, jelas Tandang, jumlah dana melebihi kebutuhan proyek sebesar 188 juta yen Jepang. Alhasil semua biaya proyek konstruksi dan desain MIT lunas dibayar pada kontraktor. Para jemaah pun sangat senang mendengar semua permasalahan tadi teratasi.

 

“Saya kan sudah 3 tahun disini. Memang sih suka pulang setiap setahun sekali. Tapi tetap saja  suka rindu pada tanah air. Nah salah satu cara mengobatinya ya kesini. Karena kompleks ini sudah laksana “kampung kecil Indonesia” di Tokyo,” tandas Tandang.

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed