oleh

Standard Chartered ASEAN Business Forum 2021 Ajak Dunia Usaha Jawab Tantangan Keberlanjutan

Jakarta, energindo — Investasi keberlanjutan mempertimbangan berbagai faktor lingkungan, sosial dan pemerintah. Investasi ini mengajak perusahaan yang berusaha memerangi perubahan iklim dan rusaknya lingkungan.

Manfaat keberlanjutan bagi perusahaan akhirnya bisa memastikan perusahaan untuk terus bekerja dalam jangka panjang. Keberlanjutan sebenarnya tak hanya terkait iklim dan pengurangan emisi. Tapi juga terkait ekonomi, tata kelola perusahaan dan lingkungan, bahkan digitalisasi.

Menurut Lucas Joppa, Chief Environmental Officer, Microsoft, berbagai pihak perlu mendalami masalah yang menghambat keberlanjutan ini dengan pengertian yang mendalam. Sebab keberlanjutan bukan hanya pertumbuhan saja. Ini tentang pertumbuhan melalui keberlanjutan.

Selain itu, keberlanjutan juga terkait beberapa bisnis spesifik dimana adanya resiko bisnis maupun kesempatan bisnis. Jadi pencapaian target dalam keberlanjutan bukan hal yang mudah karena kita harus memikirkan langkah-langkah bagi perusahaan seperti transformasi bisnis, perubahan sosial, pengalaman dan sebagainya yang harus diubah. Sehingga kita harus memiliki kesadaran diri masing-masing.

“Hal ini sulit sehingga kita perlu memahami solusi. Selain itu kita perlu bekerjasama dalam segala aspek mulai dari bisnis. Apalagi ini bukan sekedar culture point dalam organisasi, tetapi perubahan semua level termasuk pada ekosistem lain seperti suplier dan sebagainya,” jelasnya dalam webinar Standard Chartered, ASEAN Business Forum: Is There an ASEAN Way to Sustainability? pada 22 Oktober 2021.

Microsoft sendiri memiliki pathway yang memudahkan menuju net zero. Hal Ini karena Microsoft sudah berkomitmen dan mempunyai progress yang baik serta pihaknya memahami ini tidak mudah sama seperti lainnya untuk reduksi emisi.

“Intinya keberlanjutan harus dilakukan sekarang karena masalahnya sulit dan kompleks untuk dipecahkan. Kita tak akan memecahkan masalah (keberlanjutan) ini besok. Meskipun akan memakan waktu tahunan bahkan dekade. Bahkan seharusnya kita sudah memulainya dari “kemarin”. tukas dia

Azis Armand, Vice President Director, Group Chief Executive Officer, Indika Energy, menyatakan, tantangan keberlanjutan ada yang berupa teknikal dan perspektif. Untuk mengatasi hal ini, pihaknya sudah mempunya inisiatif dan strategi untuk mentransformasi perusahaan. Pertama adalah dengan mengurangi carbon footprint. Tak hanya holding, hal ini juga diberlakukan kepada anak-anak perusahaan Indika.

“Kedua adalah menggunakan Iot untuk operasi aset eksisting Indika. Realisasi ini bagian dari komitmen pada kami pada keberlanjutan.” ungkapnya.

Daniel Hanna, Global Head Sustainable Finance, Standard Chartered, mengamini bahwa ada tantangan dan teknikal gap.yang dihadapi dalam keberlanjutan ini. Terlebih, katanya, dalam Sembilan tahun kedepan kita perlu mengurangi emisi global sekitar 45%. ASEAN menjadi kunci memainkan ini.

Untuk itu, katanya, kita perlu beraksi sekarang juga untuk dekarbonisasi dan secepat mungkin termasuk memberikan kompensasi bagi yang terdampak, seperti ada program boundary carbon market yang dibentuk dengan standar tinggi dan dikombinasi teknologi. Karbon kredit ini akan memberikan bagi belahan dunia yang terdampak.

“Di sisi lain secara kritikal kita butuh menghentikan emisi adalah memberikan kapital dan mengakselerasi teknologi. Dunia harus bersama-sama memulihkan lingkungan secara signifikan,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.

Isabelle de Lovinfosse, Head of South East Asia COP26 Strategy, British High Commission Singapore, menyatakan, kemampuan investasi keberlanjutan sangat kritikal dan memangs sulit sehingga memerlukan persiapan COP26. Alhasil ini membutuhkan pendanaan yang memadai untuk mendukung bisnis dan inovasi demi mendukung transisi menjadi kenyataan.

“Sebenarnya kesempatan bisnis dan kompetensi termasuk mobilisasi keuangan untuk mendukung keberlanjutan ini sudah jelas sehingga kita bisa memulai dengan starting point bisa memulai dengan mempercepat dari sisi industry,” pungkasnya.

Menurutnya, ASEAN sendiri belum bergerak cepat untuk hal ini. Sebagai solusinya Pertama-tama harus ditumbuhkan rasa awareness terkait kebutuhan, kesempatan. Awareness ini juga membutuhkan LSM demi pertumbuhan keberlanjutan.

Jadi, katanya, keberlanjutan jangan hanya dilihat dari 9 hal yang umum karena dibutuhkan pemahaman baru secara mainstream untuk kehidupan. Proyek EBT, deforestation dan lean manufacture perlu digerakkan menjadi hal available yang mainstream di ASEAN.

“Dari Pemerintah juga bisa memberikan subsidi untuk mendukung ini. Dari sektor keuangan bisa memberikan sesuatu yang baru sehingga bisa diberikan dari angle yang berbeda bukan hanya yang tradisional saja,” tukas dia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed